- Gambar ilustrasi AI
Mengapa Advertising Tradisional Mulai Tertinggal di Era AI-Driven Growth?
tvOnenews.com - Industri advertising global tengah mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya iklan berfokus membangun awareness dan menjangkau audiens sebanyak mungkin, kini perusahaan mulai menuntut hasil yang lebih konkret: peningkatan revenue dan konversi bisnis secara langsung.
Pergeseran ini terjadi seiring semakin berkembangnya teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam sistem pemasaran digital.
Di negara maju seperti Amerika Serikat dan Korea Selatan, AI tidak lagi hanya digunakan untuk menganalisis data pelanggan, tetapi juga mengelola interaksi konsumen secara otomatis dan real-time.
Perusahaan teknologi seperti Amazon dan Meta telah mengintegrasikan AI dalam sistem rekomendasi produk, customer service, hingga optimasi iklan digital.
Bahkan laporan McKinsey & Company menyebut penggunaan AI generatif dalam marketing dan sales berpotensi meningkatkan produktivitas global hingga ratusan miliar dolar per tahun.
Fenomena serupa mulai terlihat di Indonesia. Brand dan advertiser kini menghadapi tantangan baru: bagaimana memastikan iklan yang sudah menjangkau audiens benar-benar berujung pada transaksi dan loyalitas pelanggan.
Di tengah customer journey yang semakin kompleks dan cepat, banyak perusahaan mulai menyadari bahwa advertising saja tidak cukup tanpa sistem operasional berbasis AI yang mampu merespons pelanggan secara instan dan personal.
Advertising Modern Kini Dituntut Menghasilkan Revenue
Perubahan pola konsumsi digital membuat strategi advertising tradisional semakin sulit bertahan. Konsumen saat ini tidak hanya melihat iklan di satu platform, tetapi berpindah-pindah antara WhatsApp, Instagram, TikTok, hingga marketplace dalam waktu singkat.
Masalahnya, banyak bisnis masih memisahkan fungsi advertising dengan sistem operasional yang menangani pelanggan setelah iklan berjalan.
Akibatnya, banyak potensi transaksi hilang di tengah perjalanan customer journey karena respons yang lambat atau pengalaman pelanggan yang tidak terintegrasi.
Melansir dari laman resmi, fenomena ini menjadi salah satu sorotan dalam langkah Laode Hartanto yang resmi bergabung dengan Cekat.AI sebagai Chief Growth Officer, dengan pengalaman lebih dari satu dekade di sejumlah perusahaan global seperti Gojek, Emtek Group, Facebook, hingga Dentsu Indonesia.