- Gambar ilustrasi AI
Kronologi "Big Match" Tawuran Geng Motor di Deli Serdang, Remaja 14 Tahun Tewas Dikeroyok Ratusan Orang
tvOnenews.com - Tawuran yang melibatkan ratusan anggota geng motor menewaskan seorang remaja berusia 14 tahun bernama Muharam Nasution (MN).
Polisi mengungkap bahwa bentrokan yang terjadi di Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara itu merupakan aksi yang telah direncanakan dan diberi label "Big Match" oleh kelompok yang terlibat.
Polisi memastikan tawuran antar geng yang terjadi di Jalan Setia, Desa Marindal I, Kecamatan Patumbak, Senin (22/6/2026) dini hari bukanlah insiden spontan. Dari hasil penyelidikan, dua kelompok yang bertikai telah membuat kesepakatan untuk bertemu dan saling menyerang.
Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Adrian Risky Lubis mengatakan tawuran tersebut sengaja disusun sebagai ajang pembuktian kekuatan antarkelompok.
"Dari hasil penyelidikan, tawuran ini sudah direncanakan sebelumnya. Mereka menyebutnya sebagai Big Match dan telah sepakat untuk bertemu di lokasi untuk melakukan tawuran," ujar Adrian dalam konferensi pers, Selasa (23/6/2026).
Terbongkar! Tawuran Sudah Dirancang sebagai "Big Match"
Menurut Adrian, motif utama bentrokan itu bukan persoalan pribadi ataupun sengketa tertentu, melainkan keinginan menunjukkan dominasi dan eksistensi kelompok.
"Mereka ini adalah big match, dia ini menentukan kelompok manalah yang paling kuat seperti itu. Motifnya untuk menunjukkan dominasi antar geng motor ini tadi," katanya.
Kapolsek Patumbak Kompol Daulat Simamora menjelaskan bahwa kelompok yang terlibat merupakan gabungan Geng Motor Simple Life (SL), SKM, dan Towaga yang berencana menyerang kelompok Nekat Kami Bang (NKB).
Sebelum bentrokan berlangsung, para anggota terlebih dahulu berkumpul di kawasan Kuburan Cina, Kecamatan Delitua. Lokasi tersebut disebut sebagai titik kumpul rutin yang ditentukan melalui grup WhatsApp oleh pimpinan kelompok.
"Jadi, mereka ini kalau berkumpul berdasarkan WhatsApp dari ketua kelompok. Selalu titik kumpul mereka adalah di kuburan Cina," kata Daulat.
Ratusan Orang Serang Lawan yang Jumlahnya Jauh Lebih Sedikit
Dari hasil penyelidikan polisi, kelompok gabungan SL, SKM, dan Towaga memiliki jumlah anggota yang jauh lebih besar dibandingkan lawannya.
Kanit Pidum Satreskrim Polrestabes Medan Iptu M Hafizullah mengungkapkan bahwa sekitar 200 anggota kelompok Simple Life dan afiliasinya datang ke lokasi menggunakan sekitar 100 sepeda motor serta dua mobil.
"Dari hasil penyelidikan yang kita dalami, untuk massa dari grup SL itu massa yang paling banyak. Kami dapat informasi di lapangan, ada sekitar 200 lebih dengan mengendarai 100 sepeda motor dan dua unit mobil, tapi masih kami dalami," kata Hafiz.
Sementara itu, kelompok NKB hanya memiliki sekitar 50 hingga 60 anggota. Ketimpangan jumlah tersebut membuat kubu NKB memutuskan mundur saat bentrokan mulai terjadi.
"Dari geng NKB, mereka ada sekitar 50 atau 60 orang," ujarnya.
Karena kalah jumlah, anggota NKB memilih melarikan diri dari lokasi. Namun nahas, korban Muharam Nasution tertinggal dari rombongannya setelah terjatuh.
"Sehingga tidak imbang, Geng NKB mundur, tapi korban jatuh," kata Hafiz.
Menurut Adrian, korban sempat ditabrak menggunakan sepeda motor hingga tersungkur ke jalan sebelum akhirnya menjadi sasaran amukan massa.
"Setelah terjatuh, korban menjadi sasaran pengeroyokan. Para pelaku menggunakan senjata tajam, batu, panah, dan lainnya hingga korban meninggal dunia di lokasi kejadian," jelas Adrian.
## Enam Pelaku Ditangkap, Polisi Masih Buru Keterlibatan Lain
Tim gabungan Satreskrim Polrestabes Medan dan Polsek Patumbak bergerak cepat melakukan penyelidikan setelah insiden tersebut. Hasilnya, enam orang berhasil diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka.
"Untuk pelaku yang kita amankan ada enam orang. Rata-rata masih di bawah umur, tapi ada dua orang yang sudah dewasa," ujar Adrian.
Keenam pelaku tersebut adalah RDS (18), FT (17), RY (19), MOHH (17), IL (17), dan GR (21). Mereka memiliki peran berbeda dalam pengeroyokan yang menewaskan korban.
MOHH dan FT diketahui melempari korban dengan batu. RDS turut menyerang dan melempar batu. GR menendang korban sebanyak dua kali. Sementara IL diduga menebaskan parang ke bagian punggung korban hingga dua kali. RY juga terlibat dalam pelemparan batu.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan korban mengalami luka berat di sejumlah bagian tubuh. Kanit Reskrim Polsek Patumbak Iptu Omrin Siallagan mengungkapkan luka paling fatal berada di bagian punggung yang menembus organ vital.
"Berdasarkan pemeriksaan, didapatkan robek pembuluh darah besar jantung. Penyebab kematian adalah luka tusuk pada punggung kanan yang mengenai tulang iga kanan, dan menembus pembuluh darah besar jantung, sehingga menyebabkan mati lemas," ujar Omrin.
Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa batu, dua busur panah, dan tiga batang kayu yang diduga digunakan saat penyerangan.
Meski enam tersangka telah diamankan, polisi menegaskan penyelidikan belum berhenti. Aparat masih memburu kemungkinan pelaku lain, termasuk sosok pimpinan kelompok yang diduga menjadi penggerak utama bentrokan.
"Sampai saat ini ada enam yang kita amankan. Tapi tidak menutup kemungkinan ada pelaku lainnya," kata Kompol Daulat.
Para tersangka dijerat Pasal 76C juncto Pasal 80 ayat (3) Undang-Undang Perlindungan Anak serta Pasal 262 ayat (4) juncto Pasal 466 ayat (3) KUHP. Mereka terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa tawuran geng motor bukan sekadar kenakalan remaja. Ketika aksi tersebut berubah menjadi ajang adu kekuatan yang melibatkan ratusan orang dan senjata berbahaya, konsekuensinya bisa berujung pada hilangnya nyawa anak-anak yang seharusnya masih memiliki masa depan panjang. (udn)