- Gambar ilustrasi AI
Boom Spending dan Pinjol Makin Mengkhawatirkan, Gen Z Diminta Waspada Sebelum Terjebak Utang Konsumtif
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat, Darwisman, mengatakan pihaknya terus memperkuat literasi keuangan digital sebagai langkah preventif.
Sepanjang 2025, OJK Jawa Barat telah menyelenggarakan sekitar 2.000 kegiatan edukasi yang menjangkau hampir 1 juta peserta.
Menurut Darwisman, sasaran utama pinjaman online, judi online, hingga berbagai bentuk penipuan digital adalah kelompok usia produktif.
"Belanja online dan pinjol bahkan judol itu memang menyasar masyarakat remaja usia 18-34 tahun. Pinjol tercatat mencapai Rp82 triliun dan menyasar usia muda," jelasnya.
Data OJK juga menunjukkan outstanding pembiayaan pinjaman online legal secara nasional terus bertumbuh setiap tahun. Hal ini mencerminkan meningkatnya pemanfaatan layanan pinjaman digital, baik untuk kebutuhan produktif maupun konsumtif.
Namun Darwisman mengingatkan bahwa kemudahan memperoleh dana dapat berubah menjadi masalah apabila digunakan untuk memenuhi keinginan sesaat.
Ia mengakui korban pinjaman online, judi online, maupun penipuan digital masih cukup banyak di Jawa Barat.
"Jika sudah terlanjur tentunya harus melapor, bisa laporkan masalahnya ke OJK Jabar," ujarnya.
Para ahli keuangan menyarankan masyarakat menerapkan beberapa langkah sederhana untuk menghindari boom spending, antara lain menyusun anggaran bulanan, membedakan kebutuhan dan keinginan, menghindari belanja saat kondisi emosional tidak stabil, membatasi penggunaan aplikasi belanja, serta hanya menggunakan pinjaman untuk kebutuhan produktif atau keadaan darurat.
Fenomena boom spending menunjukkan bahwa persoalan keuangan saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, tetapi juga oleh faktor psikologis, gaya hidup digital, dan kemudahan akses terhadap layanan keuangan berbasis teknologi.
Belanja impulsif yang dipadukan dengan pinjaman online dapat menciptakan lingkaran utang yang sulit diputus apabila tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai.
Karena itu, edukasi mengenai pengelolaan keuangan menjadi semakin penting, terutama bagi generasi muda yang menjadi target utama berbagai layanan digital.
Kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, memahami risiko pinjaman online, serta membangun kebiasaan menabung merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menciptakan kondisi finansial yang lebih sehat di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital. (udn)