news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Proses pembuatan batik tulis Kutai Barat..
Sumber :
  • Istimewa

Batik Tulis Kutai Barat Mulai Mendunia, Karya Perajin Lokal Lampaui Ekspektasi

Batik Tulis Kutai Barat yang diberdayakan dari program pelatihan PT BEK, mulai dikenal dunia. Karya para perajin yang menuangkan motif khas daerah telah dipamerkan di Belanda.
Selasa, 25 Agustus 2026 - 21:49 WIB
Reporter:
Editor :

"Saya bersyukur karena masih bisa naik motor, jadi masih bisa ke mana-mana dan bekerja sendiri. Saya juga nyaman ikut membatik karena mendapat pengalaman baru. Daripada di rumah tidak ada kegiatan, lebih baik ikut bergabung di sini," jelasnya.

Ungan merupakan warga asal Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara. Setelah berpisah dengan suaminya, ia menjalani kehidupan sehari-hari dengan mengandalkan pekerjaan sebagai perajin batik.

Tangannya turut menghidupkan sejumlah motif khas Kutai Barat di atas kain. Di antaranya motif Kriong, Embun ke7, Tanah Purai, enam etnis Kubar, serta berbagai corak yang terinspirasi dari budaya dan kekayaan alam daerah.

Menurut Ungan, motif yang mengangkat karakter daerah menjadi salah satu jenis yang banyak diminati pembeli. Namun, proses pembuatan batik tulis membutuhkan waktu dan ketelitian.

Setiap bagian motif harus dibuat secara manual. Karena itu, perajin membutuhkan kesabaran untuk menyelesaikan setiap lembar kain.

Untuk kain dengan motif yang kompleks, proses pengerjaannya dapat memakan waktu dua hingga tiga hari. Harga jualnya berkisar Rp500.000 hingga Rp1 juta per lembar, tergantung tingkat kerumitan dan proses pembuatannya.

Meski memiliki nilai jual, batik tulis tidak selalu memberikan pendapatan yang tetap. Waktu produksinya lebih panjang dibandingkan batik cap yang dapat dibuat dalam jumlah lebih banyak.

Ungan menilai program pendampingan PT Bharinto Ekatama menjadi salah satu faktor yang membantu keberlangsungan para perajin.

"Manfaatnya bisa menambah penghasilan keluarga. Bagi saya pribadi, program ini sangat membantu kebutuhan keluarga. Harapan saya semoga terus didampingi, sehingga kami bisa mandiri, tetap bekerja bersama dalam kelompok, dan usaha ini semakin maju, bukan hanya untuk saya tetapi juga untuk ibu-ibu yang lain," imbuhnya.

Perajin lainnya, Sutrianingsih, mengatakan kegiatan membatik memberikan pengalaman baru sekaligus kesempatan untuk meningkatkan keterampilan. Perempuan asal Jawa itu menilai membatik tidak sekadar menjadi pekerjaan tambahan.

"Kalau perbedaannya tentu ada. Di batik kami jadi bisa mengenal dunia luar, mengembangkan keahlian, belajar membuat kain dan baju batik. Kalau dari sisi pendapatan, menurut saya kurang lebih sama. Tetapi pengalaman yang didapat jauh lebih banyak," tambahnya.

Berita Terkait

1 2
3
4 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:01
02:16
01:22
22:18
03:49
05:11

Viral