- Istimewa
Batik Tulis Kutai Barat Mulai Mendunia, Karya Perajin Lokal Lampaui Ekspektasi
Sutrianingsih mengaku sebelumnya tidak mengenal motif khas Kutai Barat. Setelah mengikuti pelatihan, ia mulai memahami teknik membatik dan ikut menghasilkan kain dengan motif yang terinspirasi dari budaya daerah.
Bersama kelompoknya, Sutrianingsih bekerja dari Senin hingga Jumat. Dalam satu pekan, kelompok tersebut dapat menghasilkan sekitar lima hingga tujuh lembar batik tulis.
Sementara itu, produksi batik cap jauh lebih tinggi. Dalam periode yang sama, kelompok perajin mampu menghasilkan sekitar 50 lembar kain batik cap.
Menurut Sutrianingsih, batik tulis dan batik cap memiliki karakter serta proses produksi yang berbeda. Batik tulis membutuhkan waktu dan ketelitian lebih tinggi sehingga harga jualnya juga lebih mahal.
Batik tulis dijual sekitar Rp500.000 hingga Rp1 juta per lembar, bergantung pada tingkat kerumitan motif. Sementara batik cap dibanderol mulai Rp300.000 hingga Rp350.000 untuk kain berukuran dua meter.
Produk hasil kerja kelompok tersebut kini telah dipasarkan dan mulai dikenal masyarakat. Bagi para perajin, perkembangan itu menunjukkan bahwa keterampilan yang mereka pelajari memiliki nilai ekonomi.
Bekerja dalam kelompok memang menghadirkan tantangan tersendiri. Namun, Sutrianingsih menilai kebersamaan menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan usaha batik.
"Alhamdulillah, menurut saya program ini bisa mengangkat ibu-ibu agar memiliki kesempatan menuju kehidupan yang lebih baik. Dulu banyak yang hanya di rumah. Sekarang kami punya kegiatan, punya keterampilan, dan hasil karya kami mulai dikenal masyarakat luas. Sampai sekarang kami juga masih didampingi setiap hari, sehingga semangat untuk terus berkembang tetap terjaga," jelasnya.
Ia berharap pendampingan bagi para perajin dapat terus dilakukan. Menurutnya, program tersebut memberi ruang bagi ibu rumah tangga untuk mengembangkan keterampilan sekaligus mendapatkan tambahan penghasilan. (rpi)