- Istimewa
Hadapi Perubahan Iklim, Pemerintah Didorong Lakukan Penguatan Kebijakan Kesehatan
Upaya tersebut perlu berjalan melalui pengembangan sistem yang cerdas, riset kolaboratif, dan kebijakan yang mampu menjawab persoalan ketahanan pangan.
“Yang paling penting bukan hanya membicarakan dampak perubahan iklim terhadap kesehatan anak dan ibu, tetapi bagaimana Indonesia dapat membangun climate nutrition resilience. Indonesia juga perlu mengembangkan sistem yang cerdas melalui kolaborasi riset dan kebijakan untuk menghadapi persoalan ketahanan pangan,” ungkap Tria.
Lebih lanjut, Tria melihat I-Chip UMJ dapat menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat upaya tersebut. Kolaborasi riset dan kebijakan menjadi bagian penting dalam merespons hubungan antara perubahan iklim, gizi, dan kesehatan secara lebih terintegrasi.
“Dengan I-Chip, kita dapat membangun kolaborasi riset dan aktivitas yang positif sekaligus memperkuat kebijakan di Indonesia. Kita membutuhkan kebijakan yang cerdas untuk menyelesaikan persoalan ini,” tuturnya.
Selain itu, Guru Besar UMJ Bidang Ilmu Manajemen Keperawatan, Muhammad Hadi, menilai perubahan iklim telah menjadi persoalan serius bagi kesehatan masyarakat.
Dampaknya muncul secara langsung melalui risiko stroke, dehidrasi, gangguan kardiovaskuler, dan cedera, serta secara tidak langsung melalui perubahan pola penyakit menular seperti demam berdarah dan malaria.
“Dalam perspektif kebijakan kesehatan, respons terhadap perubahan iklim ini tidak cukup hanya dilakukan ketika terjadi bencana. Sistem kesehatan harus bergerak dari pendekatan reaktif menuju preventif, termasuk sistem peringatan dini, kesiapan, serta perlindungan kelompok rentan dan fasilitas kesehatan,” ujar Hadi.
Hadi menilai Indonesia telah memiliki fondasi kebijakan perubahan iklim, tetapi integrasinya dalam sistem kesehatan belum merata dan masih berfokus pada respons bencana.(raa)