news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Satgas PKH Diminta Tuntaskan Konflik Kebun Kelapa Sawit di Riau.
Sumber :
  • Istimewa

Satgas PKH Diminta Tuntaskan Konflik Kebun Kelapa Sawit di Riau

Persoalan kebun kelapa sawit masyarakat yang berada di dalam kawasan hutan di Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis, Riau turut menjadi sorotan Jarnas Prabowo-Gibran.
Sabtu, 19 September 2026 - 16:36 WIB
Reporter:
Editor :

Riau, tvOnenews.com - Persoalan kebun kelapa sawit masyarakat yang berada di dalam kawasan hutan di Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis, Riau turut menjadi sorotan Jarnas Prabowo-Gibran.

Hal itu terungkap saat Ketua Umum Jarnas Prabowo-Gibran, Nasarudin bersama Asosiasi Petani Kelapa Sawit Produktif Indonesia (PKSPI) melakukan pertemuan dengan warga setempat.

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah proses penertiban kawasan hutan yang dilakukan pemerintah. 

Bagi masyarakat, persoalan ini menyentuh langsung sumber penghidupan mereka karena sebagian kebun sawit yang selama ini dikelola petani berada di kawasan yang masuk dalam proses penertiban.

Keresahan masyarakat semakin muncul karena sebagian lahan hasil penertiban tersebut kemudian diserahkan untuk dikelola oleh Agrinas. 

Masyarakat ingin memastikan bahwa kebun yang benar-benar dikelola dan menjadi sumber kehidupan mereka tidak ikut terdampak.

Di hadapan masyarakat, Nasarudin meminta agar persoalan tersebut tidak dilihat secara seragam. 

Menurutnya harus ada pembedaan antara lahan yang dikuasai secara ilegal oleh pengusaha atau pihak tertentu dengan lahan yang selama ini dikelola masyarakat kecil untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Yang kita minta adalah jangan sampai masyarakat kecil menjadi korban. Kalau ada lahan yang memang dikuasai secara ilegal oleh pengusaha atau cukong, silakan ditertibkan. Tetapi lahan yang benar-benar milik dan dikelola masyarakat harus mendapatkan perlindungan,” ujar Nasarudin, Sabtu (19/9/2026).

Ia secara khusus meminta agar lahan yang benar-benar merupakan lahan rakyat tetap menjadi milik dan dikelola masyarakat serta tidak diganggu dalam proses pengelolaan lahan hasil penertiban tersebut.

Menurutnya perlindungan terhadap masyarakat kecil harus menjadi bagian dari semangat penertiban kawasan hutan. 

“Lima hektare ke bawah yang benar-benar milik rakyat, itu yang harus kita pastikan jangan sampai diganggu. Jangan sampai masyarakat yang selama ini hidup dari kebunnya kemudian kehilangan sumber penghidupannya,” katanya.

Selain meminta perlindungan terhadap kebun rakyat, Nasarudin juga mendorong agar pemerintah melalui Satgas PKH bersama Agrinas dapat mengusulkan penyelesaian status lahan masyarakat yang memenuhi ketentuan.

Salah satu langkah yang didorong adalah pelepasan lahan masyarakat dengan luasan sampai lima hektare yang memenuhi persyaratan dari kawasan hutan menjadi Areal Penggunaan Lain (APL).

Menurut Nasarudin kepastian status lahan menjadi hal penting agar petani tidak terus berada dalam ketidakpastian dan potensi konflik dapat diminimalkan.

“Kalau memang itu lahan masyarakat dan memenuhi ketentuan, kita minta diusulkan untuk dilepaskan dari kawasan hutan menjadi APL. Dengan begitu ada kepastian bagi masyarakat dan persoalan yang selama ini muncul bisa diselesaikan,” ujar Nasarudin.

Ia menilai proses tersebut tentu membutuhkan pendataan dan verifikasi yang jelas. 

Karena itu, Nasarudin meminta kepala desa bersama masyarakat mulai menginventarisasi seluruh lahan yang dikelola petani.

Data tersebut antara lain mencakup lokasi lahan, luas, identitas pengelola, serta riwayat penguasaan lahan.

“Sekarang masyarakat harus mendata lahannya dengan baik. Kepala desa juga harus ikut mendampingi. Kita harus tahu mana lahan masyarakat, berapa luasnya, siapa yang mengelola, dan bagaimana riwayatnya. Dengan data yang jelas, proses verifikasi akan lebih mudah,” katanya.

Nasarudin juga meminta masyarakat tidak panik menghadapi kebijakan penertiban kawasan hutan.

Menurutnya keresahan masyarakat perlu dijawab dengan informasi yang jelas dan komunikasi langsung, bukan dengan isu atau kabar yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

“Jangan panik dan jangan mudah percaya berita hoaks. Kita harus melihat persoalannya secara jelas. Kebijakan penertiban itu harus dipahami dengan benar agar masyarakat tidak ketakutan,” ujarnya.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum PKSPI, Nasarudin juga menawarkan organisasi yang dipimpinnya untuk menjadi mitra strategis Agrinas dalam menyelesaikan persoalan yang ada.

“PKSPI siap menjadi mitra strategis Agrinas di seluruh Indonesia. Kita siap membantu Agrinas dalam menyelesaikan konflik-konflik lahan masyarakat yang masuk dalam penertiban PKH dan kemudian dikelola Agrinas,” kata Nasarudin.(raa)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:38
03:39
04:40
22:09
07:46
08:33

Viral