- Gambar ilustrasi AI
Mengapa Rumah Tidak Layak Huni Bisa Memperburuk Kualitas Hidup Keluarga?
tvOnenews.com - Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi sebuah keluarga untuk beristirahat, tumbuh, dan menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, bagaimana jika tempat yang semestinya memberikan perlindungan justru memiliki atap bocor, dinding rapuh, ventilasi buruk, atau lantai yang tidak memadai?
Bagi sebagian masyarakat, kondisi tersebut bukan sekadar persoalan kenyamanan. Rumah yang tidak memenuhi standar kelayakan dapat memengaruhi kesehatan penghuni, membatasi ruang gerak keluarga, bahkan mengganggu aktivitas belajar dan bekerja.
Ketika hujan turun, misalnya, penghuni harus memikirkan cara melindungi barang-barang di dalam rumah. Sementara saat cuaca panas, sirkulasi udara yang buruk dapat membuat ruangan semakin tidak nyaman.
Persoalan hunian layak juga masih menjadi tantangan di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2025, baru 68,40 persen rumah tangga yang memiliki akses terhadap hunian layak.
Artinya, masih ada bagian masyarakat yang belum menikmati tempat tinggal sesuai kriteria kelayakan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pembangunan perumahan tidak cukup hanya mengejar jumlah rumah, tetapi juga perlu memperhatikan kualitas bangunan dan lingkungan tempat tinggal.
Rumah Tidak Layak Huni Bisa Berdampak pada Kesehatan Keluarga
Kondisi bangunan memiliki hubungan erat dengan kesehatan penghuninya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Housing and Health Guidelines menjelaskan bahwa kualitas hunian yang buruk berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, mulai dari penyakit pernapasan, gangguan kardiovaskular, cedera, hingga penyakit menular.
Sejumlah faktor yang menjadi perhatian antara lain kepadatan penghuni, suhu ruangan yang terlalu panas atau dingin, serta risiko kecelakaan akibat kondisi bangunan. Rumah dengan ventilasi tidak memadai, misalnya, dapat membuat sirkulasi udara terganggu. Kelembapan dan paparan jamur juga berpotensi memperburuk gangguan pernapasan.
Selain ketahanan bangunan, akses air minum dan sanitasi turut menentukan kelayakan sebuah hunian. Keluarga yang kesulitan memperoleh air bersih atau fasilitas sanitasi memadai menghadapi tantangan lebih besar dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Karena itu, rumah layak huni tidak semestinya hanya dinilai dari tampilan fisik atau kemegahan bangunannya. Keamanan struktur, kecukupan ruang, akses air minum, sanitasi, serta kondisi lingkungan menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.