- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Bukan Lagi Ekspor Bahan Mentah, Hilirisasi Mineral Bikin Nilai Bauksit Melonjak dari US$40 Jadi US$3.200
USGS mencatat Korea Selatan merupakan negara penting dalam pemrosesan bahan baku untuk rantai pasok produk teknologi tinggi, termasuk baterai dan semikonduktor. Industri pengolahan mineralnya mencakup perusahaan peleburan seng, tembaga hingga industri baja.
Artinya, kekuatan industri tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak mineral yang dimiliki sebuah negara. Kemampuan mengolah, memurnikan, mengembangkan teknologi, dan menghubungkannya dengan industri manufaktur juga menentukan seberapa besar nilai ekonomi yang dapat ditangkap.
OECD dalam kajiannya mengenai rantai nilai pertambangan juga menekankan bahwa sektor tambang sendiri relatif tidak banyak menciptakan lapangan kerja langsung. Karena itu, keterkaitan dengan sektor lain, termasuk jasa, manufaktur dan rantai pasok, menjadi peluang penting bagi negara kaya sumber daya untuk memperbesar manfaat ekonomi.
Dari Bauksit US$40 hingga Aluminium US$3.200
Konteks tersebut membuat proyek hilirisasi bauksit di Mempawah, Kalimantan Barat, menjadi salah satu contoh yang menarik. Ekosistem bauksit-alumina-aluminium yang dikembangkan Grup MIND ID memperlihatkan bagaimana satu komoditas dapat melewati beberapa tahapan produksi sebelum menjadi produk bernilai lebih tinggi.
Bauksit yang berada pada kisaran US$40 per metrik ton diproses menjadi alumina dengan nilai sekitar US$350 per ton. Tahap berikutnya menghasilkan aluminium dengan nilai sekitar US$3.200 per ton. Dengan kata lain, perbedaan nilai tersebut bukan semata berasal dari aktivitas penambangan, tetapi dari proses pengolahan dan industri yang berada di sepanjang rantai tersebut.
Hilirisasi diperlukan untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya alam secara lebih terintegrasi.
“Untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi, diperlukan sumber pertumbuhan baru. Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar, dan melalui kebijakan yang terintegrasi, potensi tersebut dapat dioptimalkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian Elen Setiadi.
Pola serupa juga terlihat pada komoditas nikel. Bijih nikel tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi feronikel hingga bahan baku untuk rantai industri baterai kendaraan listrik. Indonesia juga telah memiliki fasilitas produksi baterai Indonesia Battery Corporation (IBC) di Karawang sebagai bagian dari pengembangan ekosistem tersebut.