- tvOne - aris wiyanto
Dinsos Buleleng Dampingi Keluarga Korban Pengeroyokan, Anak Ditawari Sekolah Rakyat
Buleleng, tvOnenews.com - Himpitan ekonomi diduga memotivasi pria berinisial KD yang tewas dikeroyok warga usai diduga mencuri ayam aduan di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Korban KD diketahui tergolong keluarga kurang mampu dan tercatat sebagai penerima bantuan sosial (bansos) Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Buleleng, Bali.
Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Buleleng, I Putu Kariaman Putra, saat mengunjungi rumah korban di Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng.
“Memiliki istri dan tiga anak dan juga menanggung orang ibu kandungnya. Dalam kondisi kurang mampu,” kata Kariaman saat dikonfirmasi, Senin (27/7).
KD yang merupakan tulang punggung keluarga selama ini bekerja serabutan. Sementara itu, istrinya merupakan perajin anyaman tradisional di desanya dan memasok hasil kerajinannya kepada seorang pengusaha di desa tersebut.
“Istrinya hanya bekerja serabutan, tidak punya pekerjaan tetap. Dia, hanya serabutan jadi tukang anyaman tradisional. Sehingga, sangat kehilangan sebagai tulang punggungnya, suaminya sudah tidak ada lagi,” ujarnya.
“Jadi kalau di Desa Sidetapa dan desa di atas sekitarnya, ada pengusaha sekitar sana anyaman. Dia (bikin) kerajinan anyaman tempat nasi dan lain sebagainya,” lanjutnya.
Ia menerangkan, selama ini korban KD dan keluarganya merupakan penerima bansos dari Pemerintah Kabupaten Buleleng.
“Jadi dia hanya dapat bantuan pangan non tunai (BNPT). Kalau jaminan kesehatan sudah pasti sudah KIS (Kartu Indonesia Sehat) APBD,” jelasnya.
Ia menyebutkan, pihaknya telah memberikan bantuan BPNT berupa sembako dan kebutuhan lainnya kepada keluarga korban. Ke depan, karena korban KD memiliki dua anak yang masih bersekolah, kedua anak korban didorong untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat di Bali. Sementara itu, anak pertama sudah berkeluarga.
“Kalau anak pertama sudah berkeluarga. Kemarin, sudah ketemu dengan pihak keluarga dan istrinya korban, juga kepala desa atau perbekal-nya. Kami memberikan informasi, peluang, dan dorongan agar diberikan anaknya yang SMK dan (SD) ini bisa bersekolah di sekolah rakyat. Dan itu yang sedang dipertimbangkan,” jelasnya.
“Jadi kalau sudah masuk di sekolah rakyat. Tentu sudah menjadi tanggung jawab pemerintah untuk membiayai kebutuhan dasar, kebutuhan sekolah dan juga pemberdayaan ekonomi keluarga. Karena sekolah rakyat kan sekolah asrama yang menjadi tempat sekolah bagi anak-anak yang kurang mampu,” lanjutnya.
Kemudian, jika pihak keluarga dan kedua anak korban bersedia, nantinya juga ada tambahan program pemberdayaan untuk penguatan ekonomi keluarga. Dengan demikian, istri korban dapat memperoleh bantuan program penguatan usaha.
“Jadi salah satunya mungkin memerlukan modal usaha ataupun alat-alat untuk usaha. Dan berikut juga kalau nanti hasil-hasil asesmen dari pihak Kementerian Sosial (Kemensos) itu akan diberikan dukungan penuh untuk penguatan ekonomi,” jelasnya.
Ia mengatakan, korban telah menerima bansos sejak lama dan sudah menjadi atensi pemerintah pusat.
“Dari program bantuan Kemensos sudah lama. Karena dia memang sudah masuk ke kriteria. Jadi sudah menjadi atensi pemerintah pusat. Dulu DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial), sekarang DTSEN (Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional) dengan desil yang sudah sesuai,” ujarnya.
Pihaknya menyampaikan, Dinsos Buleleng sudah menyerahkan bantuan kebutuhan dasar, seperti pakaian layak pakai dan kebutuhan lainnya. Selain itu, masyarakat dan para pemerhati sosial juga banyak memberikan bantuan. Dinsos Buleleng turut memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga, terutama anak-anak korban.
“Kami sudah memberikan pendampingan mulai tadi pagi. Supaya anak-anak ini tidak depresi ataupun larut dan bisa tumbuh kembang kembali seperti sediakala, bersekolah, berinteraksi supaya tidak menjadi beban. Sehingga psikolog kami-lah menjadi pendampingan dan ini akan terus berkelanjutan sampai dianggap cukup oleh tim psikolog kami,” ujarnya.
Sebelumnya, Polres Tabanan, Bali, telah menetapkan lima orang tersangka dalam kasus pengeroyokan terhadap seorang pria berinisial KD yang diduga melakukan pencurian ayam di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali.
Kelima tersangka masing-masing berinisial MJ, WS, KB, ML, dan ND. Peristiwa itu terjadi pada Jumat (24/7). Korban berinisial KD dihakimi massa hingga tewas usai terpergok diduga mencuri ayam aduan.
Kapolres Tabanan, AKBP I Putu Bayu Pati, mengatakan polisi saat ini menangani dua perkara sekaligus, yakni dugaan tindak pidana pencurian yang ditangani Polsek Baturiti serta dugaan tindak pidana kekerasan secara bersama-sama di muka umum yang mengakibatkan korban meninggal dunia.
“Penanganan perkara tersebut dilakukan secara profesional oleh Polres Tabanan dengan dukungan Ditreskrimum Polda Bali,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Senin (27/7). (awt/gol)