news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kecamatan Kodi di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, menyimpan ironi berupa krisis air bersih yang menahun..
Sumber :
  • Istimewa

Menembus Krisis Air di Tanah Megalitikum

Meskipun tersohor dengan keindahan alam pesisir pantai, tradisi megalitikum, serta perkampungan adat yang masih terjaga, Kecamatan Kodi di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, menyimpan ironi berupa krisis air bersih yang menahun.
Rabu, 19 Agustus 2026 - 07:35 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Meskipun tersohor dengan keindahan alam pesisir pantai, tradisi megalitikum, serta perkampungan adat yang masih terjaga, Kecamatan Kodi di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, menyimpan ironi berupa krisis air bersih yang menahun. Menjawab tantangan tersebut, Yayasan Ekonomi Sembilan Satu (YESS), lembaga sosial yang didirikan alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia angkatan 1991 (FEUI 91), bersama Sangati berhasil merampungkan fasilitas sumur bor air bersih untuk warga dan sekolah di kawasan rumpun budaya asli Sumba tersebut.

Pengerjaan fasilitas air bersih di pedalaman Kodi ini dilakukan di dua titik lokasi dengan medan yang tergolong ekstrem. Pengeboran titik pertama dimulai pertengahan Juli pada kedalaman 70 meter dan berhasil mengeluarkan air jernih tanpa kendala teknis. Namun, pengerjaan titik kedua menghadapi tantangan geografis yang cukup berat karena berada di wilayah yang belum tersentuh jaringan listrik dan tanpa akses sinyal telekomunikasi.

Tokoh masyarakat lokal Kodi, Suster Paskalia, mengungkapkan betapa beratnya beban fisik dan ekonomi yang harus ditanggung warga sebelum kehadiran sumur bor tersebut. "Sebelum ada sumur ini, masyarakat di sini harus membeli air satu tangki dengan harga Rp200.000 hingga Rp250.000, atau berjalan kaki sekitar 5 sampai 6 kilometer menuju sungai untuk mengambil air," ujar Suster Paskalia.

Selain kesulitan air, masyarakat di area pedalaman Kodi juga harus bertahan di tengah kegelapan malam dengan mengandalkan lampu pelita lantaran belum adanya jaringan listrik. Suster Paskalia menyampaikan rasa syukur atas bantuan yang dinilai sangat vital bagi keberlanjutan hidup warga adat setempat. "Masyarakat sangat terbantu dengan adanya air ini. Saya bersyukur bahwa Tuhan memberikan kepada kami Malaikat Penolong yakni Pak Heri Susanto untuk menolong kami di pedalaman Sumba ini dalam hal pengeboran air," kata Suster Paskalia.

Bantuan dari alumni FEUI 91 dan Sangati ini dirancang secara utuh agar dapat dimanfaatkan masyarakat secara jangka panjang. Suster Paskalia merincikan seluruh infrastruktur pendukung yang turut disalurkan di lokasi kedua. "Jujur di tempat kedua ini tertolong semuanya, sampai membeli satu buah mesin disel, dua fiber air ukuran 5.500 liter, dan semen untuk pembuatan tempat wadahnya," tambah Suster Paskalia.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:59
02:55
07:21
00:52
02:54
02:17

Viral