- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Ruangan Terlihat Bersih, Tapi Bagaimana dengan Kualitas Udaranya? Perubahan Udara Ruang Pasien Kini Diprediksi AI
Sensor Tidak Hanya Membaca, AI Mencari Polanya
Untuk mengumpulkan data, peneliti mengembangkan perangkat IoT bernama FALHORA atau Faletehan Hospitals Indoor Air Quality. Perangkat tersebut menggunakan sensor untuk menangkap kondisi udara di dalam ruangan.
Data kemudian dikirimkan secara real-time ke aplikasi monitoring sehingga perubahan parameter dapat dipantau. Namun, sistem tidak berhenti pada penyajian angka. Data yang dikumpulkan kemudian diproses menggunakan model AI dengan algoritma Bidirectional Gated Recurrent Unit (Bi-GRU).
Algoritma tersebut digunakan untuk membaca pola data dan melakukan prediksi terhadap kondisi kualitas udara. Hasilnya kemudian diterjemahkan menjadi empat kategori, yakni baik, rawan, peringatan, dan bahaya.
Sistem juga memberikan rekomendasi tindakan berdasarkan kategori yang terdeteksi. Dengan cara tersebut, informasi yang dihasilkan tidak sekadar menunjukkan kondisi yang sedang terjadi, tetapi dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan respons terhadap perubahan kualitas udara.
Berdasarkan hasil penelitian, model Bi-GRU memperoleh nilai F1-Score sebesar 0,91 dengan loss 0,26. Hasil pengujian menunjukkan model tersebut memiliki performa yang cukup baik dalam melakukan prediksi kualitas udara.
Diuji di Tiga Ruangan Rumah Sakit
Teknologi tersebut kemudian diuji langsung di lingkungan rumah sakit. Peneliti melakukan pengujian pada tiga lokasi di RSDP Kabupaten Serang, yakni Unit Gawat Darurat (UGD), ruang kelas II, dan ruang kelas III.
Pengujian dilakukan untuk melihat apakah perangkat IoT, aplikasi monitoring, serta sistem prediksi dapat berjalan dalam kondisi nyata. Hasil yang diperoleh menunjukkan ketiga komponen tersebut dapat berfungsi dengan baik selama pengujian.
Penelitian berlangsung sekitar satu tahun, dari April hingga Desember 2026. Tim penelitinya berasal dari tiga bidang berbeda di Universitas Faletehan, yakni Dede Brahma Arianto, S.Kom., M.Kom. dari Program Studi Informatika sebagai ketua, Dedih Nuryatna, S.Kp., M.Kep. dari Program Studi Ilmu Keperawatan, serta Venia Setyarandini, S.Ars., M.Ars. dari Program Studi Arsitektur.
Keterlibatan tiga bidang tersebut membuat penelitian tidak hanya melihat persoalan kualitas udara dari sisi perangkat dan algoritma. Aspek keperawatan serta karakter ruang juga masuk dalam proses pengembangan sistem.