- ANTARA
Arsitektur Masa Depan: Integrasi Teknologi dan Keberlanjutan, Peran Guru Besar Universitas Kian Krusial
Bahkan, beberapa proyek menggunakan bahan berbasis jamur (mycelium) untuk konstruksi ringan dan rendah karbon, konsep yang juga mulai diteliti oleh Prof. Dalhar di Indonesia.
Inovasi Material hingga Hunian Adaptif
Sebagai peneliti, Prof. Dalhar telah mengembangkan berbagai inovasi yang relevan dengan kebutuhan lokal. Penelitiannya mencakup material alternatif seperti serat alami, komposit daur ulang, hingga living materials yang mengintegrasikan unsur biologis ke dalam bangunan.
Tak hanya itu, ia juga mengembangkan teknologi konstruksi tepat guna seperti sistem sambungan knock-down, shelter darurat portabel, hingga hunian adaptif untuk wilayah rawan bencana.
Pendekatan ini menjadi penting, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan risiko bencana tinggi di dunia.
Selain aspek material, kajian tentang standar minimum hunian dan efisiensi ruang juga menjadi fokus. Hal ini menjadi respons terhadap urbanisasi yang pesat serta tantangan keterjangkauan perumahan.
Dengan pendekatan berbasis aktivitas, desain hunian diharapkan lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas hidup.
Peran Universitas dalam Menjawab Tantangan Global
Lebih jauh, perkembangan teknologi digital seperti kecerdasan buatan, digital twin, dan sistem berbasis sensor diprediksi akan mengubah wajah arsitektur secara signifikan.
Teknologi ini memungkinkan bangunan merespons kondisi lingkungan secara real-time, mulai dari suhu, pencahayaan, hingga konsumsi energi.
Dalam konteks tersebut, universitas memiliki peran penting sebagai penghubung antara riset, teknologi, dan implementasi di lapangan. Prof. Dalhar sendiri telah mengabdikan lebih dari tiga dekade di dunia akademik sejak 1991, termasuk menjabat sebagai Ketua Departemen Arsitektur dan kini sebagai Wakil Dekan FTUI.
Kontribusinya tidak hanya di ranah akademik, tetapi juga praktik profesional. Sejumlah proyek seperti hotel, apartemen, hingga fasilitas komersial menunjukkan konsistensi dalam menggabungkan aspek teknis, estetika, dan keberlanjutan.
Penghargaan seperti Satyalencana Karya Satya 10, 20, hingga 30 tahun menjadi bukti dedikasi panjangnya.
Selain itu, berbagai publikasi internasional dan paten, termasuk teknologi papan partikel berbasis bambu dan sambungan fleksibel knock-down, menunjukkan bahwa inovasi lokal mampu bersaing di tingkat global.
Pengukuhan ini sekaligus menegaskan bahwa masa depan arsitektur tidak bisa dilepaskan dari sinergi antara teknologi, keberlanjutan, dan peran aktif dunia pendidikan.