news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Arsitektur Masa Depan: Integrasi Teknologi dan Keberlanjutan, Peran Guru Besar Universitas Kian Krusial.
Sumber :
  • ANTARA

Arsitektur Masa Depan: Integrasi Teknologi dan Keberlanjutan, Peran Guru Besar Universitas Kian Krusial

Pendekatan arsitektur berbasis teknologi dan keberlanjutan telah menjadi standar baru. Bangunan tidak lagi berdiri sebagai objek statis, melainkan sistem hidup
Kamis, 30 April 2026 - 23:50 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Perkembangan arsitektur global kini memasuki fase baru yang semakin kompleks. Bukan sekadar merancang bangunan yang indah, arsitek dituntut mampu menjawab tantangan perubahan iklim, krisis energi, hingga keterbatasan sumber daya. 

Di berbagai negara maju, pendekatan arsitektur berbasis teknologi dan keberlanjutan telah menjadi standar baru. Bangunan tidak lagi berdiri sebagai objek statis, melainkan sistem hidup yang adaptif terhadap lingkungan.

Di Eropa dan Jepang, misalnya, konsep bangunan pintar berbasis sensor dan kecerdasan buatan mulai diterapkan secara luas. Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa sektor bangunan menyumbang hampir 30 persen konsumsi energi global. 

Hal ini mendorong lahirnya inovasi seperti 'net zero building' yang mampu menekan emisi karbon secara signifikan. Teknologi seperti digital twin hingga material ramah lingkungan menjadi fondasi penting dalam transformasi tersebut.

Dalam konteks ini, peran universitas menjadi semakin strategis. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai inkubator inovasi dan solusi terhadap persoalan global. 

Di Indonesia, langkah tersebut mulai terlihat melalui kontribusi akademisi yang mendorong integrasi teknologi dan keberlanjutan dalam bidang arsitektur, sekaligus menjawab kompleksitas lingkungan binaan di masa depan.

Melanasir dari Antara, salah satu momentum penting datang dari Universitas Indonesia yang resmi mengukuhkan Prof. Dr.-Ing. Dalhar Susanto sebagai Guru Besar Tetap Departemen Arsitektur Fakultas Teknik. 

Pengukuhan ini menjadi penegasan komitmen akademik dalam mengembangkan arsitektur berbasis teknologi konstruksi dan material berkelanjutan.

Integrasi Teknologi dan Keberlanjutan Jadi Kunci

Dalam pidato berjudul “Masa Depan Arsitektur: Integrasi Teknologi dan Keberlanjutan”, Prof. Dalhar menekankan pentingnya penggunaan material ramah lingkungan sebagai fondasi utama. 

Ia menegaskan bahwa arsitektur masa depan harus mampu menjawab isu besar seperti perubahan iklim dan keterbatasan sumber daya.

“Perkembangan teknologi harus diiringi dengan kesadaran terhadap nilai-nilai keberlanjutan, sehingga arsitektur tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga bertanggung jawab secara ekologis dan sosial,” tegasnya.

Pendekatan ini selaras dengan tren global. Di negara seperti Jerman dan Belanda, penggunaan material daur ulang dan bio-material telah berkembang pesat. 

Bahkan, beberapa proyek menggunakan bahan berbasis jamur (mycelium) untuk konstruksi ringan dan rendah karbon, konsep yang juga mulai diteliti oleh Prof. Dalhar di Indonesia.

Inovasi Material hingga Hunian Adaptif

Sebagai peneliti, Prof. Dalhar telah mengembangkan berbagai inovasi yang relevan dengan kebutuhan lokal. Penelitiannya mencakup material alternatif seperti serat alami, komposit daur ulang, hingga living materials yang mengintegrasikan unsur biologis ke dalam bangunan.

Tak hanya itu, ia juga mengembangkan teknologi konstruksi tepat guna seperti sistem sambungan knock-down, shelter darurat portabel, hingga hunian adaptif untuk wilayah rawan bencana. 

Pendekatan ini menjadi penting, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan risiko bencana tinggi di dunia.

Selain aspek material, kajian tentang standar minimum hunian dan efisiensi ruang juga menjadi fokus. Hal ini menjadi respons terhadap urbanisasi yang pesat serta tantangan keterjangkauan perumahan. 

Dengan pendekatan berbasis aktivitas, desain hunian diharapkan lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas hidup.

Peran Universitas dalam Menjawab Tantangan Global

Lebih jauh, perkembangan teknologi digital seperti kecerdasan buatan, digital twin, dan sistem berbasis sensor diprediksi akan mengubah wajah arsitektur secara signifikan. 

Teknologi ini memungkinkan bangunan merespons kondisi lingkungan secara real-time, mulai dari suhu, pencahayaan, hingga konsumsi energi.

Dalam konteks tersebut, universitas memiliki peran penting sebagai penghubung antara riset, teknologi, dan implementasi di lapangan. Prof. Dalhar sendiri telah mengabdikan lebih dari tiga dekade di dunia akademik sejak 1991, termasuk menjabat sebagai Ketua Departemen Arsitektur dan kini sebagai Wakil Dekan FTUI.

Kontribusinya tidak hanya di ranah akademik, tetapi juga praktik profesional. Sejumlah proyek seperti hotel, apartemen, hingga fasilitas komersial menunjukkan konsistensi dalam menggabungkan aspek teknis, estetika, dan keberlanjutan.

Penghargaan seperti Satyalencana Karya Satya 10, 20, hingga 30 tahun menjadi bukti dedikasi panjangnya. 

Selain itu, berbagai publikasi internasional dan paten, termasuk teknologi papan partikel berbasis bambu dan sambungan fleksibel knock-down, menunjukkan bahwa inovasi lokal mampu bersaing di tingkat global.

Pengukuhan ini sekaligus menegaskan bahwa masa depan arsitektur tidak bisa dilepaskan dari sinergi antara teknologi, keberlanjutan, dan peran aktif dunia pendidikan. 

Dengan pendekatan tersebut, arsitektur tidak hanya menjadi solusi teknis, tetapi juga bagian penting dalam membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. (udn)
 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:19
01:18
05:01
01:45
01:05
01:11

Viral