- Didin/Purwasuka Viva
Terungkap Alasan KDM Gelar Kirab Mahkota Binokasih, Sekda Jabar: Momen Monitoring Kondisi Jalan Provinsi
Bandung, tvOnenews.com - Sekda Jabar, Herman Suryatman mengungkap alasan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) memanfaatkan gelaran Kirab Mahkota Binokasih.
Pasalnya karnaval ini menjadi bagian dalam rangkaian Hari Tatar Sunda. KDM secara resmi memulai gelaran kirab Mahkota Kerajaan Sunda di Sumedang pada Sabtu (2/5/2026).
Adapun rangkaian kirab Mahkota Binokasih digelar di delapan titik di wilayah Jabar. Herman mengatakan, gelaran ini tidak sekadar menjadi ajang seremoni dan karnaval bagi KDM.
Kata dia, KDM memanfaatkan agenda ini sebagai momentum inspeksi mendadak (sidak) pembangunan infrastruktur. Gubernur Jabar itu juga memantau terutama terkait kondisi jalan provinsi.
"Yang menjadi konsen Pak Gubernur adalah jalan provinsi, termasuk sempadannya," ungkap Herman dalam keterangannya di Bandung, Kamis (7/5/2026).
Apa Saja Bagian yang Jadi Konsen KDM Monitor Infrastruktur di Jabar?
- Antara
Herman menuturkan beberapa aspek yang dipantau oleh KDM. Ia menjelaskan bagian pertama terletak pada kualitas jalan provinsi.
Dedi Mulyadi setidaknya memonitoring kualitas jalan di sepanjang rute yang dilalui saat berlangsungnya karnaval ini. Selain itu, ia juga memantau ketertiban di bagian sempadan.
Kemudian, Gubernur Jabar tersebut juga menyidak kualitas konstruksi tembok. Bagian ini berfungsi sebagai penahan tebing.
Selain konstruksi tembok, KDM juga memantau sistem drainase. Kelancaran pada bagian ini untuk memastikan jalur transportasi antar-kabupaten terus aman di Jawa Barat.
Sekda Jabar itu memberikan contoh salah satu terkait kondisi jalan yang dipantau Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat. Pemasangan banner dalam area jalan dinilai merusak estetika jalan.
"Banyak ditemukan pemasangan banner yang dipaku di pohon, itu langsung kami tertibkan," terangnya.
Herman melanjutkan hal lain menjadi konsen KDM di tengah prosesi mengarak Mahkota Binokasih. Tim yang dibentuk oleh pemerintah menemukan aktivitas usaha yang tidak sesuai prosedur.
Menurut tim, berbagai aktivitas usaha tersebut dapat memberikan ancaman, terutama dari segi aspek terhadap kelestarian lingkungan.
Ia mencontohkan salah satu aktivitas usaha yang mengganggu kelestarian lingkungan. Tim menemukan pengoperasian warung pengolahan tahu berdekatan dengan pohon.
Herman berpendapat aktivitas itu mengakibatkan kerusakan di bagian batang pohon. Tak hanya itu, kegiatan menggoreng saat mengolah tahu juga membuat batang pohon menghitam.
"Ada warung tahu yang penggorengannya dekat pohon sampai pohonnya menghitam. Kalau dibiarkan, bisa mati. Padahal, itu pohon besar seperti mahoni. Itu langsung kita tertibkan," bebernya.
Dari gelaran karnaval ini, pemerintahh juga menemukan adanya aktivitas penebagan pohon. Ironisnya, kegiatan ini terjadi di kawasan sempadan jalan terletak di wilayah Situ Raja.
Pemprov Jabar, kata dia, akan melakukan penelusuran. Pemerintah ingin mengetahui status kepemilikan pohon itu agar tidak menimbulkan pelanggaran.
"Kalau melihat posisinya, itu berada di sempadan jalan. Kami akan telusuri apakah itu milik pribadi atau aset jalan," paparnya.
Iia menilai aktivitas penebangan pohon di are tebing menimbulkan bahaya besar. Bencana longsor rentan terjadi dan bisa berdampak pada badan jalan.
"Meskipun milik pribadi, tidak bisa sembarangan ditebang karena berisiko longsor," tegasnya.
Agenda monitoring di sela-sela Kirab Mahkota Binokasih juga berhasil menemukan satu rumah. Posisinya berada tepat di tebing jalan dinilai sangat berbahaya karena memicu longsor.
Ia mengatakan, Pemprov Jabar akan melakukan penanganan saat menindaklanjuti rumah tersebut. Pemerintah siap memberikan santunan kepada pemiliknya.
"Kami akan berikan santunan, dan nanti tanah serta rumahnya akan menjadi aset Pemda melalui Dinas BMPR. Sudah dikomunikasikan dan yang bersangkutan bersedia, tinggal proses formal," sebutnya.
Selain itu, Gubernur Jabar juga sudah mengecek sebuah proyek pembangunan tembok penahan tebing. KDM menyoroti proyek ini di kawasan Lemasugi.
Ia menuturkan, pemeriksaan ini meliputi kualitas konstruksi dan sistem drainase. Kemudian, KDM juga memikirkan potensi risiko yang terjadi di sekitar lokasi proyek.
Ia memastikan, proses pengecekan kondisi infrastruktur akan berlangsung secara menyeluruh di sepanjang jalur dilalui proses Kirab Mahkota Binokasih. Tujuannya memastikan kualitas pekerjaan hingga meminimalisir risiko bencana alam.
Maka dari itu, KDM menggelar kirab dalam Milangkala Tatar Sunda di beberapa titik. Puncak dari karnaval bertajuk "Nyuhun Buhun, Nata Nagara" ini akan berakhir di sekitar kawasan Gedung Sate dengan diwarnai drama musikal.
Sementara, KDM berharap dampak dari karnaval ini tidak hanya menjadi momentum sidak infrastruktur se-Jabar. Ia menginginkan Kirab Mahkota Binokasih juga berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi para pelaku UMKM dan pariwisata di Jawa Barat.
"Tentu tinggi (potensi ekonomi). Ya, kalau setiap perayaan kegiatan kan selalu melahirkan UMKM," ucap KDM.
(hap)