- Setda Bogor - Tim tvOne
LPG Mahal, KDM Ajak Warga Jabar Masak Pakai Kayu atau Gas dari Kotoran Sapi: Yang di Kota Pakai Kompor Listrik
tvOnenews.com – Kenaikan harga gas elpiji nonsubsidi yang terjadi belakangan ini memantik respons dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Pria yang akrab disapa KDM ini menilai bahwa kearifan lokal serta potensi daerah bisa menjadi solusi cerdas sebagai sumber diversifikasi energi alternatif bagi masyarakat.
Salah satu energi pengganti yang sangat potensial untuk dikembangkan adalah biogas. Energi ramah lingkungan ini dapat diperoleh melalui pengolahan limbah kotoran hewan, seperti kotoran sapi.
Langkah ini bahkan sudah mulai diterapkan oleh sejumlah peternak di Kabupaten Bandung Barat.
- Tim tvOne - Abdul Rohim
Api yang dihasilkan dari kompor berbasis biogas ini terbukti tergolong besar dan sangat mumpuni untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.
“Bisa mengelola kotoran sapi berubah jadi energi gas, bisa. Sampah, bisa. Listrik, bisa,” ujar KDM dilansir tvOnenews.com dari laman resmi Pemprov Jabar, Sabtu (16/5/2026).
Mantan Bupati Purwakarta ini menambahkan, strategi menghadapi kenaikan harga elpiji ini bisa disesuaikan dengan karakteristik wilayah masing-masing.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah perkampungan atau pedesaan, penggunaan kayu bakar dinilai masih menjadi alternatif yang relevan dan ekonomis.
Sementara itu, untuk masyarakat yang berada di kawasan perkotaan, peralihan ke penggunaan kompor listrik bisa menjadi pilihan yang lebih modern dan efisien.
"Jadi memang kita harus menyesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan kita," ucap KDM bijak.
- Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel
Kendati harga gas melambung, KDM mengaku tetap optimis bahwa masyarakat Jawa Barat tidak akan kekurangan akal dalam menyiasati situasi ekonomi saat ini.
“Saya meyakini warga Indonesia ini warga yang inovatif dan cerdas,” tambahnya.
Sebagai informasi, penyesuaian harga elpiji nonsubsidi ini telah resmi diberlakukan sejak 18 April 2026 lalu. Di wilayah Jawa Barat, harga elpiji ukuran 12 kilogram kini menyentuh angka Rp228.000 per tabung.
Sedangkan untuk varian elpiji ukuran 5,5 kilogram mengalami kenaikan menjadi Rp107.000 per tabung.
Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa kenaikan harga ini tidak menyasar elpiji subsidi ukuran 3 kilogram alias gas melon, sehingga masyarakat prasejahtera diharapkan tetap terlindungi.