- tvOneNews
Heboh Area Masjid di Cirebon Diduga jadi Lapak Prostitusi, Ditemukan Banyak Alat Kontrasepsi Berserakan
Cirebon, tvOnenews.com - Sebuah kebon kosong di sekitar area Masjid Al-Hidayah di Jalan Dukuh Semar, belakang Terminal Harjamukti, Kota Cirebon ditemukan banyak alat kontrasepsi bekas (kondom) berserakan diduga menjadi lapak prostitusi.
Temuan alat kontrasepsi tersebut membuat warga sekitar heboh. Berdasarkan pantauan di lokasi, seorang warga bernama Hera Damayanti sempat mengunjungi area sekitar dan halaman masjid tersebut.
Ia merasa prihatin terdapat banyak alat kontrasepsi berserakan di sekitar area masjid. Padahal kawasan tersebut sebagai salah satu aset Pemerintah Kota Cirebon.
"Saya sebagai anggota masyarakat Kota Cirebon sangat prihatin dan sangat memohon sekali bantuan pemerintah daerah dalam hal ini Pemerintah Kota Cirebon," ujar Hera, Kamis (20/8/2026).
Ia menyinggung letak masjid tersebut. Posisi tempat ibadah milik Pemkot Cirebon itu berada di dekat SD Duku Semar sekaligus di belakang Terminal Harjamukti.
Adapun tempat ibadah itu dimiliki oleh Pemkot Cirebon yang sebelumnya sebagai aset Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Barat.
Kepemilikan lahan kemudian telah melalui proses tukar-menukar aset sehingga terjadinya peralihan status ke pemerintah setempat. Hal ini bertujuan untuk kepentingan pembangunan dan fasilitas terminal.
"Di sini pun katanya ada DKM, kebetulan kepala DKM-nya juga salah satu ASN atau pegawai di Dinas Perhubungan Kota Cirebon," tambahnya.
Namun kondisi terkini tempat ibadah itu terlihat kurang terawat. Hal ini membuat masjid tersebut sangat sepi pasca penutupan operasional aktif terminal.
Kondisi tersebut membuat area sekitar Masjid Al-Hidayah justru dijadikan kesempatan diduga sebagai tempat prostitusi. Hera menceritakan saat dirinya mengecek situasi tempat ibadah itu.
Ia mengaku tak sengaja melihat pihak diduga melakukan aksi tak senonoh. Kejadian ini membuat dirinya mendesak Pemkot Cirebon segera merenovasi masjid tersebut.
"Tolong deh ini masjid rumah Allah. Saya sebagai masyarakat tolong banget. Tadi saya datang masuk ke sini ada perbuatan yang saya ngomongnya aja enggak tega karena ini saya di depan rumah Allah. Yang kedua, coba lihat di sekitar masjid dengan jarak cuma 57 meter banyak bekas alat kontrasepsi," tuturnya.
Ia memahami pemerintah setempat mungkin mengalami kesulitan dari segi anggaran. Maka dari itu, ia menyampaikan harapannya Pemkot Cirebon memudahkan perizinan hingga akses bagi masyarakat atau pihak swasta untuk merenovasi dan merawat masjid tersebut.
"Besar harapan saya ada masyarakat swasta, masyarakat yang peduli ingin merenovasi, merevitalisasi masjid ini. Mohon Pemda beri kemudahan, Pemda beri izin-izinnya dengan all out selagi investor membiayai sendiri," ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, sosok Riza (36), marbot Masjid Al-Hidayah mengungkapkan bahwa dirinya sebagai marbot yang telah mengabdi selama 13 tahun. Ia menjalani tugasnya secara sukarela.
Ia menjelaskan, dirinya selalu menyapu dan mengepel masjid sampai bersih setiap pagi. Di sisi lain, ia kerap kali meninggalkan tempat ibadah tersebut dengan tujuan mencari nafkah.
Selain menjadi marbot, ia juga bekerja sebagai tukang ojek. Ia melakukan hal tersebut karena tidak mendapat gaji saat menjalani tugas sebagai marbot.
Ia membantah tuduhan masjid tersebut kurang terawat. Ia yang juga bekerja sebagai tukang ojek tentu tidak maksimal memantau kondisi tempat ibadah tersebut setiap waktunya.
"Bukannya kurang terawat. Saya semaksimal mungkin membersihkan setiap pagi, nyapu, ngepel, sedangkan kalau siang atau sore itu kotor karena saya pergi ngojek," kata Riza.
Ia mengakui kondisi masjid menjadi sepi sejak Terminal Harjamukti sepi pengunjung dan ditutup. Faktor ini juga tak lepas dari akses jalan menuju tempat ibadah tersebut sangat sulit.
Akan tetapi, aktivitas shalat lima waktu masih berjalan lancar walaupun dengan jumlah jemaah yang sedikit. Kondisi masjid terpantau ramai hanya saat pelaksanaan shalat Jumat.
"Masjid Al Hidayah juga punya struktur DKM (Dewan Kemakmuran Masjid). Kemungkinan pengelolaannya dari pihak Dinas Perhubungan," tambahnya.
Reaksi Pemkot Cirebon
Pemkot Cirebon merespons kehebohan yang terjadi. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Cirebon, Iing Daiman mengakui telah mengetahui adanya persoalan dugaan lapak prostitusi di sekitar Masjid Al-Hidayah.
Iing menambahkan, pemerintah setempat juga menduga adanya indikasi aktivitas yang kemungkinan sebagai tempat transaksi minuman keras (miras) di sekitar area masjid tersebut.
"Memang kita, kami juga tidak menutup mata di daerah sana itu kadang ada tadi ya diindikasikan, mohon maaf kegiatan prostitusi, termasuk bisa jadi transaksi minuman keras atau apa pun seperti itu," kata Iing.
Ia berpendapat Pemkot Cirebon telah melakukan beberapa langkah sebagai bentuk antisipasi aktivitas tak senonoh hingga transaksi miras. Pemerintah setempat smelalui Satpol PP sering menggelar razia dan patroli di sekitar kawasan tersebut.
"Kita melakukan itu. Ini wujud komitmen pemerintah. Pak Wali dengan Bu Wakil Wali Kota itu juga sepakat memindahkan lokasi pasar pedagang bunga Kalibaru ke sana sebagai strategi sekitar masjid lebih ramai," ucapnya.
Ia menerangkan kehadirian aktivitas perdagangan dan razia maupun patroli dari Satpol PP membuat kawasan di sekitar area Masjid Al-Hidayah bisa kembali lebih ramai.
"Itu bagian dari ikhtiar kita supaya di sana ada keramaian sehinga orang yang remang-remang atau merasa tidak melakukan hal baik pelan-pelan merasa enggak enak," tukasnya.
(hap)