news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Petugas gabungan mengevakuasi warga terdampak banjir..
Sumber :
  • Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

Sebanyak 71.479 Jiwa Terdampak dan 2.440 Mengungsi Akibat Banjir di Jawa Tengah

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Senin (19/1/2026), sebanyak 71.479 jiwa terdampak dan 2.440 jiwa mengungsi akibat musibah banjir di sejumlah wilayah Jawa Tengah.
Selasa, 20 Januari 2026 - 15:29 WIB
Reporter:
Editor :

Jawa Tengah, tvOnenews.com - Banjir yang melanda wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah berdampak pada permukiman, jalan, fasilitas publik dan jalur transportasi. Banjir tersebar di Kabupaten Demak, Kendal, Batang, Pemalang dan Kota Pekalongan.

Dalam keterangan tertulisnya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Senin (19/1/2026), sebanyak 71.479 jiwa terdampak dan 2.440 jiwa mengungsi akibat musibah banjir tersebut.

"Di Kabupaten Demak, hujan lebat menyebabkan 3.825 rumah terdampak, dengan 4.527 kepala keluarga atau kurang lebih 14.000 jiwa terdampak." tulis BNPB dalam keterangan tersebut.

Kecamatan Sayung menjadi wilayah terparah, termasuk Desa Kalisari dengan 600 rumah, 600 KK, dan 2.400 jiwa terdampak, serta Desa Sayung dengan 958 rumah, 1.232 KK dan 4.090 jiwa terdampak.

"Jalan utama Kalisari-Genuk ditutup total akibat genangan. Di Kecamatan Karanganyar, Desa Wonorejo terdampak 1.932 rumah, 1.932 KK, dan 6.129 jiwa, merendam fasilitas pendidikan, perkantoran, tempat ibadah, dan 100 hektare sawah." lanjut BNPB.

Berikutnya di Kabupaten Kendal, banjir melanda 28 desa di enam kecamatan, dengan 10.700 rumah terendam dan 27.119 jiwa dari 11.479 KK terdampak.

Dua tanggul jebol, genangan merendam jalan utama, dan jalur kereta api lintas Kaliwungu-Kalibodri terganggu sehingga dilakukan pengalihan jalur serta pembatalan jadwal kereta.

"Tinggi genangan bervariasi antara 10 hingga 70 sentimeter, dengan wilayah terluas berada di Kecamatan Kendal." jelas BNPB.

Sementara itu, di Kabupaten Batang, hujan deras menyebabkan genangan air 20-70 cm di 10 kelurahan dan desa, yakni Kelurahan Karangasem Utara, Kasepuhan, Watesalit, Proyonanggan Tengah, Kauman, Desa Klidang Lor, Denasri Kulon, Kalipucang Wetan, Kalipucang Kulon, dan Desa Cepagan. Pendataan sementara mencatat 18.270 jiwa terdampak, termasuk 40 jiwa mengungsi di Desa Cepagan.

Selanjutnya di Kabupaten Pemalang, luapan Sungai Comal dan hujan lebat merendam 2.987 rumah serta tiga fasilitas sekolah, dengan 12.090 jiwa dari 3.473 KK terdampak.

Kecamatan Ulujami terdampak di Desa Sidomulyo dan Desa Mojo, dengan Desa Sidomulyo mencatat 565 rumah, 760 KK, dan 2.850 jiwa terdampak, serta genangan 20-80 cm.

Di Kecamatan Petarukan, Desa Pesucen, Widodaren, Karangasem, dan Desa Mojo terdampak 400 rumah dan 2.000 jiwa, genangan 40–60 cm.

"Kecamatan Comal melaporkan Desa Klegen 800 rumah dan 3.700 jiwa terdampak, genangan 20-40 cm. Kecamatan Randudongkal saat ini telah surut." ungkap keterangan BNPB.

Adapun di Kota Pekalongan, hujan tinggi menyebabkan limpasan dan luapan Sungai Bremi, sehingga 8.692 KK terdampak dan 2.400 jiwa mengungsi di empat kecamatan. Genangan air 10-100 cm merendam permukiman dan ruas jalan utama, termasuk Jalan Progo, Majapahit, Slamet, Kurinci, Singosari, Kampung Baru Tirto, wilayah Kalibaros, dan kawasan Pabean.

Genangan juga mengganggu jalur kereta api Surabaya–Jakarta di KM 88+6/7, sehingga dilakukan pengalihan jalur dan pembatalan jadwal.

Pengungsi tersebar di 24 titik, dengan lokasi terbesar di Aula Kecamatan Pekalongan Barat (449 jiwa), Masjid Alkaromah Tirto (370 jiwa), SDN Tirto 03 (348 jiwa), Rumah Bapak K.H. Din & TK ABA Tirto (146 jiwa), dan Masjid Khusnul Khuluq Tirto (129 jiwa).

"Dalam penanganan darurat, BNPB bersama BPBD provinsi/kabupaten/kota, TNI, Polri, kementerian/lembaga, serta relawan melakukan evakuasi warga terdampak, pendirian posko dan dapur umum, distribusi logistik dan layanan kesehatan, serta pemantauan debit sungai dan asesmen dampak." jelas BNPB.

Petugas juga melakukan normalisasi jalur rel kereta api di wilayah terdampak. Selain itu, BNPB mengoperasikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat berbasis di Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang untuk menurunkan intensitas hujan di wilayah terdampak dan daerah tangkapan air sekitarnya, sehingga curah hujan tidak terkonsentrasi di kawasan rawan banjir.

Hingga Senin (19/1/2026) pagi, genangan air masih terjadi di beberapa titik dan debit sungai terpantau fluktuatif, dengan potensi meningkat apabila hujan kembali turun. BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas di lapangan. (buz)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:00
16:47
09:09
04:22
01:14
00:56

Viral