- Tim tvOne - Abdul Rohim
Sebanyak 80 Persen Nelayan Pati Tidak Melaut Akibat Harga Solar Industri Naik, Siap Aksi Turun ke Jalan
Pati, tvOnenews.com — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar berdampak langsung pada aktivitas nelayan di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Ribuan nelayan dilaporkan memilih tidak melaut karena biaya operasional yang melonjak tajam, terutama setelah harga solar industri naik signifikan sejak awal April 2026.
Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera, Eko Budiyono, menyebut kondisi di tempat pelelangan ikan (TPI) hingga sektor pendukung perikanan kini nyaris lumpuh.
“Selama kenaikan, tidak ada aktivitas melaut. Di TPI dan usaha terkait nelayan sekarang tidak ada kegiatan,” ujar Eko saat ditemui di Juwana, Senin (27/4/2026).
Ia menjelaskan, harga solar industri ritel naik dari Rp14.000 menjadi Rp23.000 per liter sejak 18 April 2026.
Sementara solar jenis marine mengalami kenaikan dari Rp21.000 menjadi Rp30.000 per liter sejak awal April.
Menurutnya, sebagian nelayan yang masih melaut merupakan mereka yang telah mengisi bahan bakar sebelum kenaikan harga terjadi, terutama menjelang Lebaran.
“Teman-teman yang melaut itu sudah mengisi sebelum ada kenaikan,” tambahnya.
80 Persen Nelayan Berhenti Melaut
Eko mengungkapkan sekitar 80 persen nelayan di Pati kini menghentikan aktivitasnya. Dari total lebih dari 2.000 nelayan, sebagian besar memilih bertahan karena tidak mampu menutup biaya operasional.
“Sekitar 80 persen nelayan tidak melaut. Ini bukan hanya sektor nelayan, tapi seluruh aktivitas perikanan ikut terdampak,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa komponen BBM menyumbang sekitar 70 persen dari total biaya operasional melaut. Dengan lonjakan harga yang mencapai Rp26.000 hingga Rp30.000 per liter di sejumlah daerah, kegiatan melaut dinilai tidak lagi ekonomis.
Sebagai bentuk protes, para nelayan berencana menggelar aksi demonstrasi besar-besaran pada 4 Mei 2026. Aksi tersebut akan dipusatkan di Pendopo dan DPRD Kabupaten Pati.
Ribuan nelayan dijadwalkan berkumpul di Alun-alun Juwana sebelum bergerak menuju Alun-alun Pati.
“Ada sekitar 10 ribu nelayan yang akan turun menyampaikan aspirasi,” kata Eko.
Dalam tuntutannya, nelayan meminta pemerintah menetapkan harga khusus BBM untuk sektor perikanan, dengan kisaran Rp10.000 hingga Rp13.600 per liter.
“Kami butuh kebijakan yang berpihak. Kalau tidak, nelayan tidak akan mampu melaut,” pungkasnya.
Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi keberlangsungan sektor perikanan di daerah pesisir, sekaligus menambah tekanan ekonomi bagi masyarakat yang bergantung pada hasil laut. (arm/buz)