news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Perlintasan kereta api sebidang dibangun secara swadaya di Desa Wonotolo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah..
Sumber :
  • Tim tvOne - Mahfira Putri

Buka Akses Vital yang Terisolasi Rel Ganda, Warga di Sragen Bangun Perlintasan Sebidang Secara Swadaya

Warga Dukuh Keten, Desa Wonotolo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah bergotong royong membangun perlintasan kereta api sebidang secara swadaya. 
Rabu, 21 Oktober 2026 - 09:27 WIB
Reporter:
Editor :

Sragen, tvOnenews.com — Warga Dukuh Keten, Desa Wonotolo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah bergotong royong membangun perlintasan kereta api sebidang secara swadaya. 

Akses antardesa dan antar-kecamatan tersebut sebelumnya sempat terisolasi akibat pembangunan jalur rel ganda (double track) Solo-Surabaya. 

Sebelum adanya perlintasan ini, warga dari kedua kecamatan terpaksa harus memutar hingga belasan kilometer untuk beraktivitas sehari-hari maupun mengangkut hasil pertanian.

Pembangunan perlintasan yang berlokasi di antara Stasiun Kebonromo, Ngrampal, dan Stasiun Gondang ini menjadi angin segar bagi warga.

Pembangunan perlintasan swadaya ini diinisiasi oleh tokoh masyarakat Gondang, KH. Syarif Hidayatullah (Abah Syarif), serta mendapat dukungan penuh dari anggota DPRD Kabupaten Sragen, Bombong Lukito Samudro (Gus Bombong).

Abah Syarif mengungkapkan persoalan penutupan jalan ini sudah berlangsung lama dan diwarnai dinamika antara masyarakat dengan pihak perkeretaapian. 

Melihat keluhan warga yang tak kunjung usai, ia bergerak memfasilitasi komunikasi hingga ke tingkat jajaran dinas terkait dan pimpinan daerah.

"Jalan ini kan masyarakat dan pihak kereta api itu tutup-cabut berpuluh-puluh tahun enggak selesai. Akhirnya masyarakat menghadap saya," ujar Abah Syarif saat dijumpai di lokasi perlintasan.

Ia menegaskan pentingnya mempertahankan akses jalan historis warga. Ia mengatakan bahkan sebelum ada jalan kereta api, masyarakat terlebih dahulu tinggal di wilayah tersebut.

"Saya sampaikan ke Bupati, sebelum jalan kereta api itu ada, lebih dulu jalan manusia. Jalan ini sudah dilalui sejak zaman bapak dan mbah kita. Boleh kereta api lewat, tapi jalan manusia jangan dibunuh, harus dibuka," ujar pengasuh Ponpes Nurul Huda Gondang itu.

Abah Syarif menekankan seluruh pembangunan perlintasan ini murni berasal dari swadaya dan semangat gotong royong masyarakat setempat. 

Pembangunan ini direspons positif oleh pihak terkait dan diharapkan segera dilengkapi fasilitas pendukung resmi.

"Ini murni dari rakyat, swadaya. Nanti perlintasan akan dilengkapi posko dan palang pintu. Pihak kereta api juga memperhatikan dan merespons dengan baik," ujar dia.

Nantinya, perlintasan sebidang ini tidak hanya dirancang untuk dilintasi sepeda motor, tetapi juga dapat dilalui kendaraan besar pendukung akses ekonomi dan pertanian warga. 

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

13:03
04:39
09:03
08:41
04:56
08:50

Viral