- tvOne - zainal azkhari
Puluhan Warga Mengamuk di Rumah Sakit Tuntut Kematian Peter Manuputty, Ini Sebabnya
Surabaya, tvOnenews.com – Puluhan warga Maluku yang menamakan diri sebagai warga Maluku Satu Rasa mengamuk di Rumah Sakit Premier Surabaya Sabtu (29/4) sore.
Massa marah karena Rumah Sakit Premier Surabaya menolak almarhum Peter Manuputty ketua Ormas Maluku Satu Rasa berobat saat kondisi kritis akibat sakit jantung dan akhirnya meninggal dunia.
Sempet terjadi keributan di depan rumah sakit saat massa Ormas Maluku Satu Rasa dilarang masuk ke areal rumah sakit oleh aparat kepolisian.
"Puluhan Ormas Maluku Satu Rasa ini memaksa masuk ke Rumah Sakit Premier Surabaya mereka merasa tidak terima karena pembina warga Diaspora Maluku yakni Peter Manuputty ditolak oleh Rumah Sakit Premier pada saat sedang kritis akibat serangan jantung 25 april 2023 lalu," kata Albert salah satu simpatisan di lokasi.
IGD Rumah Sakit Premier Surabaya menolak dengan alasan kondisi sendang penuh hingga akhirnya keluarga membawa almarhum Peter Manuputty ke rumah sakit lain dan akhirnya meninggal dunia.
Dari pantauan di lapangan, ada sekitar puluhan hingga ratusan orang mendatangi RS Premier Surabaya. Saat berada di halaman dan pintu masuk, sempat adu mulut dengan kepolisian dan petugas keamanan RS.
Mengetahui hal itu, massa dan keluarga lantas masuk ke ruang mediasi di dalam RS. Mereka lantas meminta klarifikasi dan permintaan maaf kepada pihak RS perihal penolakan yang diklaim telah menciderai keluarga pengacara Peter Manuputty.
Direktur RS Premier Surabaya, dr Hartono Tanto mengaku ada kekhilafan dalam melayani pasien kala itu. Menurutnya, hal itu karena kekhilafan semata.
"Saya mewakili manejemen RS Premier Surabaya mohon maaf sekali yang sebesar-besarnya atas pelayanan yang tidak baik terhadap almarhum Peter Manuputty.
Kami tidak melakukan defence apapun karena menurut kami itu hal yang sudah terjadi, saya tulus hatI dan rendah hati siap bertangung jawabme serta mohon maaf yang sebesar-besarnya," kata Hartono saat mediasi dengan keluarga pasien, Sabtu (29/4).
"Sejujurnya, saya tidak tahu kondisi bapak, bisa ada 2 kemungkinan. Mohon maaf, bisa tidak tertolong atau yang kedua bisa tertolong dan saya tidak mau berandai-andai, sesuai ilmu kedokteran bisa selamat tapi kondisinya seperti itu," imbuhnya.
Ia mengaku tidak akan tinggal diam. Hartono menegaskan, pihaknya tetap memproses secara internal perihal dokter dan suster yang melayani kala itu.
"Prosesnya ini kan juga sudah berlangsung, apa yang terjadi itu kan yang jelas saya lakukan sesuatu agar pelayanan masyarakat agar lebih baik dan saya akan bertanggungjawab. Ada proses panjang, untuk dokter jaga awalnya memang tidak boleh di IGD, namun sampai terlatih dan paham betul, dokter Leo (yang menangani Peter Manuputty saat kritis) adalah dokter yang mampu untuk itu. Memang, saya akui kami bisa khilaf, tapi niat untuk buruk mungkin tidak," ujarnya.
Hartono lantas menganalogikan dokter tersebut bak prajurit perang. Sehingga, ketika karyawan ada kekhilafan, pimpinan tentu akan turun tangan.
"Artinya, saya tidak mau membawa ini sebagai kesalahan pribadi, tidak ada tentara yang salah, tapi jenderalnya yang salah," paparnya.
Sementara itu, istri almarhum Peter, Lisa Manuputty mengaku menerima permintaan maaf dari pihak RS Premier Surabaya. Namun, ia menjabarkan terlebih dulu kronologi yang ia alami kala itu.
"Saat itu, suami saya di rumah saturasi 60, kalo heart attack ada golden periode, penanganannya harus sekian detik, bukan menit. Pas itu, kondisi bapak (Peter) kepala di tengah saat dalam mobil, lalu saya bilang ke suster agar segera ditangani. Lalu pintu dibuka, suster bilang posisi melintang lalu saya masuk dan suster ambil temperatur dan ambil stiker, saya bilang ke suster saturasi 60 dan balik ke dalem sekitar 1 menit dalam posisi pintu terbuka," ungkap warga Medokan Semampir itu.
Lisa menerangkan, suster yang menerimanya kala itu menyatakan bed atau kapasitas ruangan pasien penuh. Sehingga, tidak bisa melayani Peter.
Lantas, Lisa tetap meminta ke suster agar segera ditangani. Namun, suster tetao menolak dan menyatakan tidak bisa.
"Pak Peter meninggal Selasa (25/4), pas mediasi pertama oleh dokter Leonardo saat itu, kalau memang meninggal ya sudah tidak apa-apa, asal dapat pertolongan lebih dulu. Kalau sudah ditolak dari depan, menurut saya tidak manusiawi sama sekali, lalu Pak peter dianggap apa, padahal saya sudah sampaikan ke suster dan disambungkan ke dokter jaga, otaknya dimana gitu loh," jelasnya.
Kendati demikian, Lisa mengaku tidak pernah menyalahkan siapa pun perihal kematian Peter Manuputty. Menurutnya, Peter memang sudah dalam waktu yang terbaik untuk meninggal dunia.
"Ada rencana indah untuk pisah dengan Bianca (anak kandung Peter). Tapi, sebagai istri melihat suami dalam keadaan pinsan lalu ditolak, itu tidak bisa secara nalar, karena ini suster pasti dapat informasi bahwa tidak bisa ditangani dari dokter jaga," tuturnya.
Meski begitu, Lisa mengaku telah menerima permohonan maaf yang sudah disampaikan oleh manajemen RS Premier Surabaya. Menurutnya, keluarga sudah damai dengan RS.
Maka dari itu, Lisa memastikan sudah tak mau memperpanjang dan membuat masalah kian gaduh. Sebab, telah menerima dengan lapang dada dan hati yang besar.
"Kami tidak ada dendam dengan Premier, saya mau menuntut atau proses hukum atau memidanakan, tidak ada dari pihak keluarga, kami cukup puas diterima oleh penerimaan dan pertanggungjawaban anda sebagai kepala, kami sudah lega. kami memang mendapatkan klarifikasi dari bapak,” ujarnya.
“Jadi, kalau ada tuntutan dan kisruh-kisruh, itu bukan dari pihak keluarga. Kalau memang pada mediasi pertama kami penuh emosi dan ada kerabat serta keluarga yang berasumsi Peter meninggal saat perjalanan, akhirnya melimpahkan kekecewaan mereka bahwa Premier ini penyebabnya, sedangkan dari keluarga ya mungkin sudah jalan Tuhan tapi tindakan penolakan itu yang tidak bisa kami terima. Jadi, intinya sudah selesai dan terimakasih," tutur dia.
Beruntung, mediasi yang dilakukan Kapolsek Sukolilo, Kompol M Soleh berakhir damai. Bahkan, usai kegiatan tersebut, massa membubarkan barisan tanpa ada kegaduhan seperti halnya Kamis (27/4) kemarin.
"Alhamdulillah berjalan kondusif, kedua pihak saling berdamai dan memaafkan, sudah tidak ada lagi selisih paham dari keduanya," pungkasnya. (zaz/gol)