- tim tvpne - aris sutikno
Isi Ramadhan, Siswa SLB B Tulungagung Membaca Alquran dengan Telunjuk
Tulungagung, tvOnenews.com - Keterbatasan fisik ternyata tidak menghalangi semangat siswa SLB-B Kedungwaru, Tulungagung, untuk mengikuti kegiatan di bulan Ramadhan. Sejumlah siswa berkebutuhan khusus di sekolah ini, nampak lebih khusyuk dan khidmat dalam mengikuti kegiatan selama Ramadhan, seperti tadarus Al-Quran Braille dan kelas tahfidz.
Selama bulan Ramadhan ini, mereka tetap semangat melakukan murojaah hafalan dan membaca Al-Quran Braille, meski mereka mengalami keterbatasan fisik.
Salah seorang siswa tunanetra, Riska Desila Putri, tampak tekun membaca Al-Qur’an braille. Dengan posisi duduk tegak, ia menelusuri baris demi baris huruf braille yang tersusun rapi.
Tidak ada tatapan mata yang menyapu halaman demi halaman, namun sentuhan jemarinya menjadi pengganti penglihatan. Bagi Riska, mengaji bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan batin. Setiap ayat yang ia baca menghadirkan ketenangan tersendiri. Ia mengaku harus lebih sabar dalam proses belajar, terutama saat pertama kali mengenal huruf hijaiyah braille.
“Awalnya sulit membedakan titik-titiknya. Tapi lama-lama saya terbiasa. Sekarang justru merasa lebih mudah memahami karena membacanya pelan-pelan,” ujarnya.
Sedangkan di kelas tahfidz, semangat serupa juga terpancar dari Denadine, siswa tunanetra yang tengah fokus menghafal Al-Qur’an. Tanpa melihat mushaf secara visual, Denadine mengandalkan kepekaan pendengaran dan ingatan yang terlatih. Menurut Denadine, tantangan terbesar bukan pada keterbatasan fisik, melainkan menjaga konsistensi hafalan. Ia mengaku harus rutin murajaah agar ayat-ayat yang telah dihafal tidak mudah lupa.
“Saya biasanya membaca dulu dengan braille, lalu mengulang-ulang sampai hafal. Kalau sudah hafal satu halaman, rasanya senang sekali,” tuturnya dengan nada optimistis.
Di balik ketekunan para siswa tersebut, ada peran guru yang sabar membimbing. Arif Efendi, pengajar di kelas tersebut, mengatakan bahwa metode pengajaran bagi siswa tunanetra membutuhkan pendekatan khusus.
Arif Efendi menambahkan, kemampuan para siswa tunanetra dalam menghafal kerap kali justru lebih kuat karena mereka terbiasa mengandalkan memori. Proses belajar mungkin memerlukan waktu lebih panjang, tetapi hasilnya tidak kalah dengan siswa pada umumnya.
“Mereka belajar dengan sentuhan dan pendengaran. Jadi kami lebih banyak membimbing secara personal, memastikan setiap bacaan dan makhraj hurufnya tepat,” pungkasnya.
Setiap Ramadhan kegiatan belajar di SLB-B Kedungwaru Tulungagung, difokuskan pada pendidikan keagamaan mulai dari mengaji, berlatih membaca Alquran dengan huruf braile, serta hafalan ayat-ayat pendek, sehingga selama bulan suci ini kegiatan para pelajar lebih di sekolah ini lebih unggul. (asn/hen)