- tvOne - rohmadi
Musim Kemarau Picu Lonjakan Pneumonia di Jombang, RSUD Rawat 617 Pasien, 52 Meninggal Dunia
Jombang, tvOnenews.com – Musim kemarau yang tengah melanda Kabupaten Jombang tidak hanya memicu kekeringan dan krisis air bersih. Kondisi cuaca panas, kering, dan berdebu juga berdampak pada meningkatnya kasus penyakit saluran pernapasan yang berujung pada pneumonia.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang mencatat ratusan warga harus menjalani perawatan akibat pneumonia selama musim kemarau tahun ini. Bahkan, puluhan pasien dilaporkan meninggal dunia karena kondisi penyakit yang sudah parah disertai penyakit penyerta atau komorbid.
Direktur RSUD Jombang, dr. Pudji Umbaran, mengungkapkan bahwa peningkatan kasus pneumonia terjadi seiring tingginya angka infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dipicu cuaca panas dan kualitas udara yang menurun akibat debu.
“Memang di musim kemarau ini kasus ISPA yang kemudian kami diagnosis sebagai pneumonia cukup tinggi,” ujar dr. Pudji Umbaran, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, udara kering dan paparan debu yang meningkat selama musim kemarau dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit kronis.
Data RSUD Jombang menunjukkan, selama musim kemarau, jumlah pasien pneumonia yang menjalani perawatan terus mengalami peningkatan. Dalam satu hari, rumah sakit menerima rata-rata dua hingga tiga pasien baru dengan diagnosis pneumonia.
Jika diakumulasikan, jumlah pasien pneumonia yang dirawat setiap bulan mencapai sekitar 80 orang. Sejak awal musim kemarau hingga saat ini, RSUD Jombang telah menangani 617 pasien pneumonia. Dari jumlah tersebut, 52 pasien dinyatakan meninggal dunia.
Dr. Pudji menjelaskan, sebagian besar pasien yang meninggal dunia datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah berat. Selain itu, mereka juga memiliki penyakit penyerta, seperti diabetes melitus, gangguan jantung, gagal ginjal, maupun penyakit kronis lainnya yang memperburuk kondisi kesehatan pasien.
“Mayoritas pasien yang meninggal memiliki komorbid atau penyakit penyerta sehingga memperberat kondisi pneumonia yang diderita,” jelasnya.
Pneumonia merupakan infeksi yang menyerang paru-paru dan sering kali diawali dengan gejala ISPA. Penyakit ini dapat menyebabkan peradangan pada kantung udara di paru-paru sehingga mengganggu proses pernapasan.
Gejala yang umum dirasakan antara lain batuk berkepanjangan, demam, sesak napas, nyeri dada, tubuh lemas, hingga penurunan kadar oksigen dalam darah.
Apabila tidak segera ditangani, infeksi dapat berkembang menjadi lebih serius dan berpotensi mengancam nyawa, terutama bagi kelompok rentan.
Melihat tren peningkatan kasus tersebut, RSUD Jombang mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap dampak kesehatan selama musim kemarau.
Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama ketika kondisi cuaca panas, berangin, dan banyak debu.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih, menjaga daya tahan tubuh, mengonsumsi makanan bergizi, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala ISPA yang tidak kunjung membaik.
“Penggunaan masker saat berada di luar rumah sangat penting untuk mengurangi paparan debu dan mencegah infeksi saluran pernapasan,” kata dr. Pudji.
Dengan musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, RSUD Jombang memperkirakan jumlah kasus pneumonia berpotensi terus meningkat.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan sekecil apa pun. Penanganan dini dinilai menjadi kunci untuk mencegah ISPA berkembang menjadi pneumonia yang lebih berat.
Pihak rumah sakit juga terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan layanan kesehatan guna menghadapi kemungkinan lonjakan pasien selama musim kemarau berlangsung.
“Jangan menunggu kondisi memburuk. Jika mengalami batuk, demam, atau sesak napas yang berkepanjangan, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” pungkasnya. (roi/gol)