- Rohmadi
Warga Keluhkan Sungai di Jombang Bau Menyengat, Dipenuhi Endapan dan Sampah
Selain sungai, Umar juga mengeluhkan kondisi air sumur miliknya. Ia menyebut air sumur berubah menjadi putih keruh dan mengeluarkan bau menyengat.
Kondisi tersebut membuat Umar tidak lagi menggunakan air sumur untuk kebutuhan minum dan memasak. Ia memilih menggunakan air galon untuk kebutuhan konsumsi.
“Air sumur sangat tercemar dan sangat bau. Warnanya seperti putih susu. Untuk minum dan masak saya sudah bertahun-tahun menggunakan air galon,” jelasnya.
Umar juga mengatakan bau masih terasa ketika air sumur digunakan untuk mencuci pakaian. Meski telah diberi pewangi, menurut dia, bau tersebut masih menempel.
Ia juga mengaku mengalami keluhan kesehatan berupa sesak napas dan beberapa kali harus menjalani pemeriksaan.
“Saya sendiri sering sesak napas dan sering periksa. Sampai sekarang masih sesak dan sering minum obat,” tuturnya.
Umar juga menyebut anak-anaknya pernah mengalami keluhan seperti mual, sakit perut hingga muntah. Namun, hubungan antara keluhan kesehatan tersebut dengan kondisi sungai maupun kualitas air sumur belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan medis dan uji kualitas lingkungan.
Menurut Umar, keluhan bau dan kondisi sungai tidak hanya dirasakan warga di sekitar rumahnya. Dampak serupa disebut dirasakan warga di sejumlah wilayah yang dilalui aliran sungai, mulai dari Murong Santren, Ngembeh, kawasan sekitar Pondok Darul Ulum hingga Peterongan.
“Yang terdampak banyak, sampai beberapa wilayah yang dilewati aliran sungai. Sampai Peterongan juga ada,” katanya.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang merespons kondisi Sungai Sekunder Rejoagung 2 tersebut. DLH berencana turun ke lokasi untuk membersihkan endapan yang menumpuk di dasar sungai.
Sekretaris DLH Jombang Amin Kurniawan mengatakan, berdasarkan informasi sementara yang diterima, material di sungai merupakan campuran kotoran hewan dan sedimen yang diduga berasal dari limbah tahu.
“Informasinya campur. Ada kotoran hewan, kemudian ada sedimennya dari limbah tahu,” kata Amin secara terpisah.
Menurut Amin, minimnya aliran air membuat endapan semakin terlihat. Kondisi tersebut juga menyebabkan sirkulasi udara dan oksigen di dalam air rendah atau anaerob.