- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Era AI dan Coding Mulai Masuk Dunia Pendidikan, Ini Tantangan Baru bagi Guru dan Sekolah Buktikan Inovasi Pembelajaran
tvOnenews.com - Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dan coding mulai bergerak dari sekadar tren teknologi menuju bagian dari perubahan cara belajar di sekolah.
Kemampuan memahami teknologi, berpikir komputasional, mengolah data, hingga menggunakan AI secara etis semakin dipandang sebagai kompetensi yang perlu dikenalkan kepada peserta didik sejak jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Arah tersebut juga tercermin dalam kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial dikembangkan untuk memperkuat kemampuan berpikir komputasional, logika, kreativitas, analisis data, algoritma pemrograman, sekaligus pemahaman mengenai etika penggunaan AI.
Perubahan ini membuat tantangan sekolah tidak berhenti pada kemampuan menyediakan perangkat digital. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi digunakan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih adaptif, relevan dan berbasis pemecahan masalah.
Karena itu, praktik nyata di ruang kelas menjadi semakin penting untuk menunjukkan apakah pemanfaatan AI dan coding benar-benar memberikan dampak terhadap proses belajar.
AI dan Coding Tak Lagi Sekadar Wacana
Pemerintah telah menetapkan arah implementasi pembelajaran coding dan kecerdasan artifisial secara bertahap pada pendidikan dasar dan menengah. Dalam kebijakan tersebut, Koding dan Kecerdasan Artifisial menjadi mata pelajaran pilihan yang diterapkan secara bertahap mulai kelas 5 SD hingga jenjang pendidikan menengah.
Materinya pun tidak semata mengajarkan siswa bagaimana membuat program. Pada jenjang yang berbeda, peserta didik diarahkan untuk memahami cara menyusun langkah logis, membuat produk digital, mengolah data, hingga memahami persoalan seperti bias, ketergantungan, halusinasi AI, hak cipta dan perlindungan data pribadi.
Di sisi guru, perubahan tersebut menuntut kemampuan baru. Kemendikdasmen pada 2026 memperluas pelatihan pembelajaran mendalam, coding dan kecerdasan artifisial bagi guru melalui Ruang GTK. Langkah ini menunjukkan bahwa transformasi digital pendidikan membutuhkan peningkatan kompetensi pendidik, bukan hanya penambahan perangkat teknologi.
Dalam konteks itu, Acer Smart School Awards (ASSA) 2026 kembali digelar dengan membawa fokus yang lebih kuat pada pemanfaatan AI dan coding dalam pembelajaran. Program ini memasuki tahun keenam penyelenggaraan dan tahun ini memiliki kategori School of The Year Award serta Guru Kreatif Award.
Sekolah Diminta Tunjukkan Bukti, Bukan Sekadar Konsep
Ada perubahan menarik dalam mekanisme ASSA 2026. Peserta tidak cukup menyampaikan gagasan mengenai sekolah masa depan atau transformasi digital. Sekolah yang mengikuti kategori School of The Year harus menunjukkan evidence atas inovasi yang telah dilakukan, dampaknya terhadap ekosistem pendidikan, serta penerapan prinsip sustainability.
Sementara itu, guru peserta Guru Kreatif Award dituntut mengirimkan proyek pembelajaran yang menggunakan AI, sekaligus menunjukkan karya atau artefak yang dihasilkan dari proyek tersebut.
Dengan pendekatan ini, penggunaan teknologi ditempatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang dapat diamati dan dievaluasi.
Fransisca Maya, Head of Marketing, Acer Indonesia, mengatakan, “AI dan coding kini menjadi bagian dari kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan. Untuk itu penting bagi sekolah maupun pendidik, tidak hanya mengenal teknologi melainkan juga memahami bagaimana teknologi dapat diimplementasikan.”
Tahap penilaian juga dirancang untuk melihat kemampuan peserta menerapkan teknologi dalam situasi nyata. Melalui Innovation Arena, para finalis akan menghadapi studi kasus secara langsung, kemudian diminta menyusun struktur pemikiran dan mengembangkan solusi berbasis AI dalam waktu terbatas.
Model penilaian tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan menggunakan AI tidak hanya berkaitan dengan mengetahui berbagai aplikasi. Peserta juga dituntut memahami persoalan, menyusun pendekatan, menguji solusi dan menjelaskan alasan di balik teknologi yang digunakan.
Guru Dibekali Keterampilan untuk Kelas Masa Depan
Penguatan kompetensi juga menjadi bagian dari rangkaian program ASSA 2026. Para peserta mendapat kesempatan mengikuti Acer Smart School Academy yang berkolaborasi dengan Intel Skills for Innovation (SFI) pada November 2026.
Pelatihan tersebut mencakup sejumlah materi, mulai dari design thinking, computational thinking, pemrograman, analisis data dan simulasi hingga pemanfaatan AI serta machine learning. Tujuannya adalah membantu guru mengintegrasikan teknologi ke dalam kurikulum sekaligus merancang pengalaman belajar berbasis proyek.
ASSA 2026 terbuka bagi sekolah, sekolah luar biasa (SLB), madrasah dan guru di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD/MI, SMP/MTs hingga SMA/MA dan SMK/MAK. Pendaftaran dibuka sejak 16 September 2026, dengan total hadiah lebih dari Rp600 juta.
- ist
Pada akhirnya, persoalan utama dalam transformasi pendidikan berbasis AI bukan seberapa banyak teknologi yang digunakan sekolah, melainkan seberapa relevan teknologi tersebut dalam membantu siswa belajar dan memecahkan masalah.
AI dan coding dapat menjadi alat untuk membangun kemampuan berpikir, kreativitas dan literasi digital, tetapi manfaatnya tetap bergantung pada bagaimana guru merancang pembelajaran dan bagaimana sekolah membangun ekosistem yang mendukungnya.
Karena itu, inovasi pendidikan di era AI semakin dituntut untuk tidak berhenti pada gagasan, melainkan menunjukkan bukti, proses dan dampak yang dapat dirasakan di ruang kelas. (udn)