- tvOne - agus wibowo
Harga Paket Seragam Siswa di Pacitan Capai Rp2 Juta, Ini Penjelasan Sekolah
Pacitan, tvOnenews.com - Sejumlah sekolah tingkat SMA dan SMK di Kabupaten Pacitan mendapat sorotan terkait pengadaan seragam siswa setelah proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) selesai dan kegiatan pembelajaran telah berlangsung.
Sorotan tersebut muncul menyusul keluhan sejumlah orang tua mengenai mekanisme pengadaan seragam yang ditawarkan melalui sekolah. Nilai paket seragam yang disebutkan orang tua bervariasi, mulai dari sekitar Rp600 ribu hingga Rp2 juta.
Salah satunya di SMAN 1/271 Kota Pacitan. Orang tua siswa menyebut satu paket seragam yang terdiri atas seragam abu-abu putih, pramuka, olahraga, batik/lurik, topi, dasi, sabuk, dan kaos kaki ditawarkan sekitar Rp1,6 juta untuk siswa laki-laki dengan ukuran standar.
Sementara untuk siswa perempuan, harganya disebut sekitar Rp2 juta. Orang tua juga diminta membayar tambahan apabila membutuhkan ukuran pakaian yang lebih besar.
“Daftar harga sudah ada semua. Disodorkan waktu daftar ulang lalu sudah dan seketika itu langsung suruh bayar,” terang Kusnanto, orang tua murid baru SMAN 1/271 Pacitan.
Kusnanto menambahkan, paket tersebut terdiri atas seragam abu-abu putih, pramuka, olahraga, batik, kotak-kotak, topi, dasi, sabuk, dan kaos kaki dengan harga sekitar Rp1,6 juta.
Menurutnya, lembar pemesanan seragam yang diberikan saat daftar ulang tidak diperbolehkan dibawa pulang. Kondisi tersebut, kata dia, membuat orang tua kesulitan berdiskusi terlebih dahulu mengenai kebutuhan seragam.
“Saat saya minta selebaran itu, panitia bilang tidak boleh karena hari ini harus dikumpulkan. Saya kan juga harus bicara dengan istri apa saja yang harus dibeli, nah ada kesan paksaan di sini. Jenis kain dan harga juga belum jelas, harga dan datangnya. Mereka hanya bilang harganya kita juga belum tahu, Pak, nanti akan kita infokan setelah barang datang. Jadi yang jelas kita itu belum tahu bahannya seperti apa dan harganya berapa, tahu-tahu datang barang dan muncul harga Rp1,6 juta,” imbuhnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Heru Suranto dalam rapat pleno komite sekolah. Ia mempertanyakan transparansi pengelolaan anggaran sekolah serta mekanisme pengadaan seragam yang dibebankan kepada orang tua.