news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan semakin meresahkan, warga terpaksa menggunakan masker untuk berkatifitas sehari-hari.
Sumber :
  • antara

ISPA Ancaman Nyata Dari Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan yang di sebagian wilayah Kalimantan makin meluas, puluhan ribu hektar hutan dan lahan hijau berubah menjadi merah panas. Ancaman ISPA mengintai akibat asap dari kebakaran
Kamis, 27 Agustus 2026 - 14:42 WIB
Reporter:
Editor :

Banjarmasin, tvOnenews.com - Masker saat ini menjadi perlengkapan wajib bagi warga Banjarmasin dan sekitarnya. Beraktifitas tanpa menggunakan masker sama saja dengan memberikan celah bagi gangguan pernafasan akibat kabut asap. Langit biru yang biasanya menjadi penanda cerahnya hari berubah kelabu, di beberapa hari belakangan ini di akhir Agustus.

Bukan sekadar persoalan jarak pandang, yang menjadi dampak akibat asap kebakaran, melaikan asap yang masuk ke permukiman menimbulkan kekhawatiran karena setiap tarikan napas berpotensi membawa partikel yang dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

Warga mulai mengurangi kegiatan di luar rumah, menutup pintu dan jendela, serta mengingatkan anggota keluarga agar tidak terlalu lama terpapar asap. Kekhawatiran semakin terasa ketika aktivitas sehari-hari harus menyesuaikan dengan kondisi udara.

Situasi itu tidak lepas dari meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan yang terjadi saat musim kemarau. Asap dari titik kebakaran berpotensi terbawa angin dan menurunkan kualitas udara hingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Aulia Handayani salah satu warga Banjarmasin mengatakan kabut asap membuat masyarakat semakin waspada karena dampaknya tidak hanya dirasakan ketika berada di luar rumah, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga.

"Kalau asap mulai terasa pekat, kami tentu khawatir, terutama untuk anak-anak. Kami berusaha mengurangi aktivitas di luar dan menggunakan masker kalau memang harus keluar," katanya.

Maka, belakangan ini, pintu-pintu rumah di kota itu tertutup. Masyarakat membutuhkan kondisi udara yang lebih aman agar dapat menjalankan aktivitas tanpa dihantui kekhawatiran terhadap gangguan pernapasan. Upaya pencegahan dinilai harus berjalan bersamaan dengan penanganan kebakaran di lapangan.

Ancaman gangguan pernapasan menjadi salah satu alasan masyarakat perlu lebih disiplin melindungi diri selama kabut asap berlangsung. Penggunaan masker, mengurangi aktivitas luar ruangan, dan menjaga sirkulasi udara di dalam rumah menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan.

"Kami berharap kebakaran bisa segera ditangani supaya asapnya tidak terus menyebar. Masyarakat juga harus saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan," ujarnya.

Kabut asap pada akhirnya bukan hanya persoalan pandangan yang terbatas atau langit yang berubah kelabu. Di baliknya terdapat ancaman terhadap kesehatan yang menyentuh aktivitas sehari-hari warga, sehingga perlindungan masyarakat dan pengendalian karhutla harus berjalan beriringan.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan Diauddin mengatakan masyarakat perlu memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan ketika kabut asap mulai mempengaruhi kualitas udara.

Kelompok rentan ini meliputi bayi dan balita, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia dan penyandang disabilitas. Perlindungan terhadap kelompok tersebut tidak dapat hanya mengandalkan kesadaran masing-masing keluarga.

Dinkes Kalsel menggerakkan puskesmas bersama pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan, kader kesehatan serta masyarakat untuk memantau kondisi kelompok rentan di wilayah terdampak kabut asap.

Pemantauan juga dilakukan dengan memperkuat surveilans terhadap penyakit yang berpotensi meningkat akibat paparan asap, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), pneumonia, asma, iritasi mata dan gangguan kesehatan lainnya.

"Petugas bahkan melakukan kunjungan langsung dari rumah ke rumah untuk menemukan warga yang membutuhkan pertolongan lebih cepat,'" kata Diauddin, Rabu (27/8/2026).

Untuk mengantisipasi penurunan kualitas udara serta peningkatan gangguan kesehatan perlu dilakukan langkah-langkah antisipatif secara terpadu untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Kesiapan menghadapi dampak kabut asap juga dilakukan dari sisi logistik kesehatan. Dinkes memastikan ketersediaan masker medis dan respirator N95, obat-obatan untuk ISPA dan asma, oksigen medis, nebulizer, alat serta bahan medis habis pakai dan berbagai kebutuhan penunjang pelayanan kesehatan.

Tidak semua warga terdampak memiliki akses mudah menuju fasilitas kesehatan. Karena itu, pelayanan kesehatan bergerak turut diupayakan, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak dan mengalami kesulitan mendapatkan pelayanan secara langsung.

"Beberapa kali tim kesehatan lapangan kami telah memberikan layanan kesehatan kepada penduduk terdampak karhutla di Posko Pengayuan Banjarbaru," kata Diauddin

Ancaman kesehatan tersebut mulai tergambar dari perkembangan kasus ISPA di Kalsel. Data terbaru Dinkes menunjukkan kasus ISPA meningkat selama lima minggu berturut-turut dengan total 36.196 kasus.

Di Kota Banjarmasin terdapat  jumlah kasus tertinggi sebanyak 1.603 kasus, disusul Banjarbaru 1.142 kasus, Kabupaten Banjar 1.136 kasus, Tanah Laut 751 kasus, dan Kotabaru 538 kasus.

(ant)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:06
07:17
05:09
04:35
01:19
01:25

Viral