BPBD Kalsel Catat 9.088,75 ha Luas Lahan Terdampak Karhutla Sejak 1 Januari 2026
- antara
Banjarmasin, tvOnenews.com - Kepala BPBD Provinsi Kalimantan Selatan Ronny Eka Saputra mengatakan pihaknya mencatat kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di provinsi setempat periode 1 Januari hingga 25 Agustus 2026, tercatat sebanyak 1.903 kejadian dengan lahan terdampak mencapai 9.088,75 hektare. Data tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus dasar dalam memperkuat langkah pengendalian karhutla di daerah.
"Pemantauan dilakukan dengan memadukan laporan kejadian di lapangan dan pemantauan titik panas dari sumber data satelit," katanya di Banjarbaru, Rabu.
Dia menjelaskan data hingga 25 Agustus 2026 menunjukkan karhutla masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.
Karena itu, pengendalian dan pemantauan harus terus diperkuat, terutama pada wilayah yang memiliki tingkat kejadian dan sebaran titik panas cukup tinggi.
Berdasarkan data BPBD Kalsel, kejadian karhutla tersebar di 13 kabupaten/kota. Diantaranya, Kabupaten Banjar mencatat 388 kejadian dan luas lahan terdampak 2.037,72 hektare, disusul Kabupaten Tanah Laut sebanyak 301 kejadian dengan luas 1.661,77 hektare serta Kota Banjarbaru sebanyak 360 kejadian dengan luas 1.398,40 hektare.
Sedangkan Kabupaten Hulu Sungai Selatan tercatat 246 kejadian dengan luas lahan terdampak 1.171,63 hektare, Kabupaten Tapin 151 kejadian dengan luas 861,75 hektare, dan Kabupaten Barito Kuala 132 kejadian dengan luas 803,20 hektare.
Selanjutnya, Hulu Sungai Utara sebanyak 93 kejadian dengan luas 507,78 hektare, Hulu Sungai Tengah 57 kejadian dengan luas 153,61 hektare, Tanah Bumbu 48 kejadian dengan luas 150,35 hektare, Tabalong 29 kejadian dengan luas 135,13 hektare, dan Kotabaru 42 kejadian dengan luas 40,42 hektare.
Untuk wilayah perkotaan, Kota Banjarmasin tercatat enam kejadian dengan luas lahan terdampak 1,41 hektare. Data tersebut menunjukkan bahwa kejadian karhutla juga perlu menjadi perhatian di kawasan perkotaan dan sekitarnya.
Selain data kejadian, pemantauan hingga 25 Agustus 2026 mencatat 10.910 titik hotspot di Kalimantan Selatan. Data hotspot tersebut bersumber dari SIPONGI Kementerian Kehutanan dengan pemantauan satelit NASA-MODIS, NASA-SNPP, dan NASA-NOAA20.
Ronny menegaskan keberadaan titik hotspot menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati dalam upaya pengendalian karhutla, namun penanganan tetap harus didasarkan pada verifikasi dan kondisi faktual di lapangan.
“Pemantauan hotspot terus kami lakukan sebagai bagian dari sistem kewaspadaan dini. Informasi tersebut harus segera ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan, sehingga apabila ditemukan kebakaran dapat dilakukan penanganan sedini mungkin agar tidak meluas,” katanya.
Load more