- Antara
Dari Kanvas ke Fesyen, 14 Perupa Hadir di The Untitled
tvOnenews.com - Pameran seni rupa The Untitled menghadirkan 14 perupa dari berbagai daerah di Indonesia dengan pendekatan yang mempertemukan karya visual, desain dan fesyen. Melalui kolaborasi pelukis Agus Wicaksono dengan 2Madison Avenue, karya seni tidak hanya dipamerkan di galeri, tetapi juga diterjemahkan menjadi produk yang dapat dikenakan dalam keseharian.
Pameran bertajuk The Unspoken Narratives Waiting to be Told tersebut berlangsung pada 2 hingga 17 Oktober 2026 di 2Madison Gallery Kemang dan 2Madison Plaza Pondok Indah, Jakarta. Para seniman yang terlibat berasal dari sejumlah kota, antara lain Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bogor, Magetan, Klaten, Gresik, Padang dan Tangerang Selatan.
Melalui tema tersebut, setiap perupa mendapat ruang untuk menyampaikan narasi personal dengan pendekatan artistik masing-masing. Keragaman itu terlihat dari karya yang mengangkat pengalaman masa kecil, filosofi kehidupan hingga proses membangun kembali diri setelah menghadapi kesulitan.
Agus Wicaksono membawa 25 lukisan yang dibuat pada 2022. Karya-karyanya banyak menampilkan figur hewan dengan teknik kontur menggunakan kuas, pendekatan yang dikembangkannya setelah beralih dari pisau palet pada 2016.
Pengalaman masa kecil menjadi salah satu sumber gagasan Agus. Kedekatannya dengan hewan berawal dari lingkungan keluarga, ketika kakeknya bekerja di Kebun Binatang Surabaya.
"Ini sebenarnya peristiwa masa kecil saya. Masa kecil saya itu dekat dengan hewan-hewan ini," ungkap Agus saat ditemui di sela pameran, Kamis (1/10/2026).
Dalam The Untitled, karya Song of Freedom menjadi visual utama yang diterjemahkan ke dalam koleksi wearable art 2Madison Avenue untuk Fall and Festive Collection 2026. Adaptasi tersebut mencakup sejumlah produk, seperti gaun, atasan, celana, scarf dan aksesori.
Agus mengatakan, peralihan teknik melukis juga menjadi bagian dari perjalanan artistiknya. Setelah menggunakan pisau palet selama bertahun-tahun, ia memilih kuas untuk mengeksplorasi pendekatan baru.
"Saya jenuh pakai palet itu. Terus saya ingin berubah, berubah total," ujarnya. Disaat yang sama, Reydo Respati menghadirkan dua lukisan yang mengangkat konsep Purusa dan Prakerti dalam ajaran Hindu.
Kedua konsep tersebut menggambarkan energi maskulin dan feminin yang saling berhubungan dalam proses lahirnya kehidupan. Reydo memilih figur abstrak tanpa wajah dan dominasi warna hitam-putih untuk menyampaikan gagasannya.
Kesederhanaan visual tersebut juga tercermin dalam teknik pengerjaan yang mengandalkan spontanitas. "Dengan narasi tadi, saya ingin menghadirkan gambaran energi yang sederhana. Jadi dengan gerak yang simpel untuk menghadirkan objek," jelas Reydo pada kesempatan yang sama.
Sementara itu, Riki B. Suteja membawa dua karya bertema rebirth atau pembentukan kembali. Dalam proses penciptaannya, ia melukis bidang gipsum, menghancurkannya, kemudian menyusun kembali kepingan-kepingan tersebut dan menyatukannya menggunakan resin.
Bagi Riki, proses tersebut merepresentasikan pengalaman manusia ketika menghadapi kesulitan dan berusaha bangkit. Ia menghubungkan proses artistik itu dengan pengalaman personal yang menurutnya juga dapat dialami banyak orang.
"Jadi pas sudah jatuh, entah gimana caranya kita susun ulang serpihan-serpihan diri untuk bangkit jadi sesuatu yang baru," ujar Riki di event ini.
Keragaman pendekatan ketiga seniman tersebut memperlihatkan bagaimana The Untitled menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan dan pengalaman artistik. Perluasan medium melalui kolaborasi dengan industri fesyen juga membuka jalur lain bagi masyarakat untuk mengenal dan berinteraksi dengan seni rupa.
Upaya memperluas jangkauan tersebut relevan jika melihat data partisipasi masyarakat dalam kegiatan seni. Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Statistik Sosial Budaya 2024 mencatat, sebanyak 4,98% penduduk DKI Jakarta berusia lima tahun keatas menonton pertunjukan atau pameran seni rupa dalam tiga bulan terakhir.
Secara nasional, proporsinya tercatat sebesar 4,34%. Angka tersebut menggambarkan proporsi penduduk yang mengakses pertunjukan atau pameran seni rupa dalam periode pengamatan, bukan keseluruhan pasar seni.
Data itu memberikan konteks mengenai pentingnya beragam jalur untuk mempertemukan karya dengan publik, termasuk melalui medium yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kolaborasi seni rupa dan fesyen yang dihadirkan The Untitled menjadi salah satu pendekatan tersebut.
Selain membuka peluang bagi karya untuk menjangkau audiens diluar galeri, model ini mempertemukan apresiasi artistik dengan potensi ekonomi kreatif. Keberlanjutan manfaatnya tetap bergantung pada respons publik, minat kolektor serta kemampuan produk hasil kolaborasi menemukan pasarnya.(chm)