- Antara
Perlu Alat Berat Amfibi untuk Angkut Tumpukan Kayu
tvOnenews.com - Dibutuhkan alat berat amfibi untuk mengangkut tumpukan kayu berukuran besar yang menghambat aliran air di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru yang menumpuk akibat bencana hidrometeorologi di daerah setempat. Hal ini diungkapkan oleh Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) Gus Irawan Pasaribu.
“Kalau dihitung, tumpukan kayu yang ada di hilir sana panjangnya mencapai 3,3 kilometer (km), dan akibatnya masih ada beberapa desa kami yang kebanjiran,” kata Gus Irawan di Sipirok, Jumat.
Dia mengatakan aliran sungai tersebut mengalir ke tempat yang lebih rendah, namun tertahan karena tumpukan kayu berukuran besar tersebut, sehingga aliran air tersebut masuk ke permukiman warga.
Menurut dia, tumpukan kayu tersebut telah menutupi aliran sungai di tiga titik.
“Lokasi tumpukan kayu ini sudah agak dekat ke batas Mandailing dan di hilir sungai Batang Toru ini ada tiga titik penumpukan,” ujar Gus Irawan.
Pihaknya pun berdiskusi dengan Balai Besar KSDA, Balai Besar Sungai, serta BUMN terkait untuk penanganan batang kayu yang menutup aliran air tersebut.
“Tidak ada cara lain, kecuali dengan mendatangkan alat berat amfibi. Kami berharap ini segera ditangani,” ucap Gus Irawan.
Sebelumnya, dia juga mendorong kehadiran jembatan permanen yang dibangun di atas aliran Sungai Garoga yang menghubungkan Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Kota Sibolga yang sangat vital untuk distribusi barang dan mobilisasi orang.
“Saat ini, sudah dibangun dua Jembatan Bailey di lokasi, tapi ini kan sifatnya sementara dan ada batasan truk di bawah tonase 25 ton yang boleh lewat di sana,” kata Gus Irawan, Kamis (29/1).
Dia pun mengaku sudah melaporkan terkait kebutuhan jembatan permanen yang mampu menahan beban mobil di atas 30 ton tersebut kepada Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera yang juga Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian.
Jembatan permanen itu, kata dia, sangat dibutuhkan mengingat distribusi gas bersubsidi maupun gas non subsidi diangkut dari Kota Padang dengan menggunakan kapal menuju Pelabuhan Sibolga.
Kapal itu berlayar terlebih dahulu ke Nias, kemudian baru ke Sibolga. Lalu, gas diangkut melalui jalur darat ke Tapanuli Selatan melewati jembatan tersebut.
Dia menyebutkan pengangkutan gas tersebut hanya dapat dilakukan satu kali dalam seminggu, sementara kebutuhannya jauh lebih besar.
Jembatan itu, sambung dia, diperlukan sehingga dapat dilewati truk pengangkut dengan bobot di atas 30 ton dan gas dapat dibawa menuju Tapanuli Selatan. (chm)