- Istimewa
Warga Aceh Tamiang Masih Kesulitan Akses Makanan Bergizi
Jakarta, tvOnenews.com - Masyarakat Aceh Tamiang masih kesulitan mengakses sumber pangan bergizi khususnya protein pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor.
Penyuluh Kesehatan Puskesmas Sekerak, Aceh Tamiang, Ersyad mengatakan masyarakat dari desa terdampak bencana banjir bandang harus menempuh perjalanan jauh hingga dua jam untuk mendapatkan bahan pangan.
“Dari desa Pematang Durian itu bisa lebih 1–2 jam,” kata Ersyad, Minggu (8/3/2026).
Ersyad menuturkan kondisi tersebut disebabkan keterbatasan akses menuju desa yang sempat terisolasi setelah bencana.
Menurutnya jembatan yang putus membuat jalur menuju desa harus memutar lebih jauh dari biasanya.
“Jembatan akses ke sana putus sehingga tim harus memutar arah, jadi lebih tiga kali lipat jauhnya,” ujarnya.
Keterbatasan akses pangan membuat bantuan yang beredar di masyarakat lebih banyak berupa makanan praktis yang mudah didistribusikan dan disimpan, seperti mie instan dan susu kental manis.
Padahal, konsumsi pangan tersebut secara terus-menerus tidak ideal bagi anak-anak dan balita yang membutuhkan asupan gizi lebih lengkap untuk mendukung pertumbuhan.
Ersyad menjelaskan konsumsi kental manis dalam jangka panjang berpotensi mengganggu pola makan anak karena kandungan gulanya yang tinggi dapat menimbulkan rasa kenyang semu.
Akibatnya, anak cenderung enggan mengonsumsi makanan bergizi lainnya.
“Jangka pendeknya bisa ke stunting. Karena konsumsi susu kental manis bisa menghasilkan efek kenyang yang palsu. Anak-anak nantinya bakal mengutamakan kental manis, ketimbang makan,” kata Ersyad.
Kesulitan masyarakat mendapatkan pangan tinggi protein turut dibenarkan oleh Ketua PC Muhammadiyah Sama Dua Aceh Selatan, Denni Taufiqurrahman yang aktif turun menjadi relawan di Aceh Tamiang.
Denny mengungkapkan bahwa keterbatasan akses membuat masyarakat sulit mendapatkan sumber protein untuk anak-anak.
“Terkait kebutuhan protein, ya ala kadarnya. Apalagi saat Ramadan ini, anak-anak juga sebagian ada yang puasa, ada juga yang tidak puasa, tapi untuk kebutuhan ini masih sangat minim,” ujar Denny.
Selain kesulitan memperoleh bahan pangan bergizi, ketersediaan air bersih juga masih menjadi persoalan utama bagi masyarakat.
Kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang membuat sebagian sumber air tidak lagi dapat digunakan secara normal.