- Istimewa
Unggul Pada Debat Pertama Caketum BPP HIPMI, AFI Kuasai Program Hilirisasi Untuk Mendorong Pertumbuham 8%
tvOnenews.com - Afifuddin Suhaeli Kalla (Afi Kalla) tampil memukau dan dinilai sebagai kandidat paling siap dalam Debat Pertama Caketum BPP HIPMI periode 2026-2029. Dengan argumen berbasis data makro dan visi yang sangat membumi, Afi berhasil memetakan solusi ekonomi yang jauh lebih konkret dibandingkan kandidat lainnya.
Debat Kandidat Pertama Calon Ketua Umum (Caketum) BPP HIPMI telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 9 Mei 2026 di BW Luxury Hotel Jambi. 4 Caketum BPP HIPMI periode 2026-2029 yaitu Afi Kalla, Reynaldo Bryan, Anthony Leong, dan Ade Jona berkumpul hadir untuk saling adu gagasan mengenai bagaimana mereka akan mengembangkan potensi para pengusaha muda, untuk turut mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan mereka nanti.
Di dalam momen ini, Afi Kalla, Calon Ketua Umum BPP HIPMI No. Urut 3 menekankan bahwa industri pengolahan harus menjadi tulang punggung utama untuk mencapai target pertumbuhan 8%.
“Pengolahan itu, kalau kita mendengar industri, kita tidak hanya melihat industri besar saja. Tapi kita juga harus melihat industri yang dimulai dari dapur rumah tangga, garasi kecil, dan juga ruang tamu. Karena itu semua adalah bagian dari rantai pengolahan nasional,” tegas Afi.
Visi ini diterjemahkan melalui program unggulan Jadi Mandiri, yang berfokus pada pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) sebagai pintu masuk realistis bagi pengusaha muda ke ekosistem industri. Melalui pengembangan IKM di seluruh provinsi, para pengusaha muda dapat masuk ke ekosistem industri dan memaksimalkan potensi keunikan Sumber Daya yang dimiliki oleh setiap daerah.
“Masing-masing provinsi di Indonesia memiliki keunikan tersendiri, resource tersendiri terhadap apa yang bisa dijadikan nilai tambah di daerah mereka masing-masing. Karena itu, saya mendorong temen-temen HIPMI untuk bisa mandiri secara ekonomi, menjadi pengusaha hilirisasi melalui Industri Kecil dan Menengah,” ujar Afi.
Selain itu, Afi berargumen bahwa penciptaan ekosistem IKM di daerah adalah solusi nyata untuk mengatasi ketimpangan ekonomi antara Jawa dan luar Jawa. Dengan membangun pabrik-pabrik kecil di tingkat provinsi, nilai tambah komoditas akan menetap di daerah asal, menciptakan lapangan kerja lokal, dan mendorong pemerataan kesejahteraan.
“Kita dorong lebih banyak pabrik-pabrik kecil, IKM di setiap daerah dalam rangka menambah nilai dari suatu barang dan jasa. Supaya nilai tambahnya itu ada di provinsi nya masing-masing, tidak pindah ke provinsi yang terlalu padat di Jawa. Jadi kami berharap dengan pemeratan ini, hilirisasi dan IKM di setiap provinsi di Indonesia, bisa memeratakan pertumbuhan ekonomi-ekonomi di daerah. Dengan bertumbuhnya perekonomian di daerah, ini akan mendorong dan membentuk pertumbuhan ekonomi nasional 8%,“ tambahnya.
Menurut Afi, konsumsi Rumah Tangga yang tinggi di Indonesia merupakan hal yang baik. Namun, Ia berargumen bahwa untuk menjadi negara maju kita tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi Rumah Tangga. Kita harus menjadi negara produsen.
“Maka itu kami mendorong untuk indonesia bisa lebih fokus menjadi negara produsen. Dengan membuat produk-produk substitusi, barang-barang yang tadinya kita impor, kita bisa bangun di dalam negeri. Sehingga nilai tambahnya akan ada di dalam negeri, dan bisa menambahkan kemakmuran rakyat indonesia,” kata Afi.
Dengan langkah-langkah tersebut, Afi percaya bahwa kedepannya HIPMI tidak hanya menjadi perkumpulan bagi para Pengusaha Muda, namun, HIPMI akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang berkontribusi langsung pada target pertumbuhan nasional 8%. Melalui visi “Kita Bikin Jadi”, Ia berkomitmen bahwa di bawah kepemimpinannya, setiap gagasan besar pengusaha muda tidak akan berhenti sebagai wacana, melainkan dieksekusi hingga menjadi hasil nyata bagi bangsa. Dominasi Afi dalam debat ini menegaskan posisinya sebagai pemimpin yang tidak hanya menawarkan ide, tetapi sistem eksekusi yang nyata untuk membawa HIPMI ke level berikutnya.(chm)