- tim tvOne/Miko
Ritual Adat Pangku Paliare, Tradisi Suku Semende di Bengkulu Mensensus Jumlah Penduduk
"Sembari menikmati lemang yang dicocol kuah kince, maka hadirin akan menikmati hiburan seperti tari adat, tari kreasi, alunan musik gambus, serta rejung bertutur atau semacam nasihat bertutur yang diiringu musik gambus," sambungnya.
Lanjutan kegiatan ini, seluruh warga akan mendengarkan sejarah terciptanya alam semesta oleh Tuhan lalu lahirlah para leluhur mereka atau Malim (ketua adat), satu per satu nama-nama Malim disebut sejak suku merrkat terlahir hingga nasab Malim terakhir saat ini.
"Nasab Malaim atau tetua adat kami tersusun rapi dan saling bersambungan hingga sekarang Malim terakhir bernama Nenek Kuyin," pungkasnya.
Agenda ritual berikutnya, Malim saat ini, atau Nenek Kuyin, memimpin doa-doa disertai simbol seserahan empat ekor ayam panggang. Masing-masing memiliki makna dan warna berbeda.
Suasana khidmat semakin terasa saat pesan dan nasihat adat berisikan nasihat tentang kebajikan, hidup rukun, dan menjaga alam sekitar. Terakhir acara ditutup dengan pembagian air berisi limau, bunga, air tersebut didoakan lalu dibagikan pada seluruh warga.
"Kami meyakini air yang sudah didoakan ini akan membawa kedamaian, membawa berkah, dijauhkan dari gangguan jin dan setan, diberi kesehatan dan kemakmuran," ujar Usman salah seorang warga.
Pangku Paliare bukan sekadar ritual adat. Tradisi ini jadi pengingat untuk selalu menjaga keseimbangan, saling menghormati, dan terus bersyukur atas anugerah hidup di bumi pertiwi.
Acara tahunan itu berjalan sederhana tepat tengah hari semua prosesi selesai, para warga pulang membawa lemang, ayam panggang, air yang sudah didoakan. Wajah ceria terpancar dari warga yang meyakini kebaikan akan selalu menemani setelah ritual adat digelar. (Rgo/wna)