- Andri
Reaktivasi 248,5 Km Jalur Kereta Api Sumbar Ditargetkan Mulai Oktober 2026
Karena itu, pendekatan keruangan atau spatial approach berbasis Geographic Information System (GIS) dinilai penting dalam proses reaktivasi.
GIS tidak hanya digunakan sebagai alat untuk membuat peta, tetapi juga untuk mengintegrasikan data trase historis, kemiringan lereng, kondisi geologi hingga kawasan rawan bencana.
Dengan pendekatan tersebut, titik-titik kritis dengan tingkat kerawanan tinggi dapat diidentifikasi sejak awal sehingga aspek mitigasi dapat diperhitungkan dalam perencanaan.
Timtim juga menyoroti posisi stasiun yang menurutnya tidak boleh hanya dipandang sebagai tempat naik dan turunnya penumpang.
Stasiun merupakan simpul strategis yang dapat mempertemukan permukiman, pusat perdagangan, kawasan pariwisata hingga jaringan angkutan pengumpan atau feeder.
“Ini bukan lagi sekadar persoalan membangun rel dari titik A menuju titik B, tetapi bagaimana membangun jaringan yang benar-benar digunakan oleh masyarakat dan dunia usaha melalui analisis pola asal-tujuan perjalanan (origin–destination) dan wilayah tangkapan stasiun (station catchment area),” paparnya.
Di sektor pariwisata, jalur tersebut juga memiliki potensi untuk mendukung konektivitas menuju sejumlah kawasan seperti Lembah Anai, Danau Singkarak hingga kawasan di kaki Gunung Marapi.
Meski demikian, Timtim mengingatkan agar potensi pariwisata tidak menggeser fungsi utama kereta api sebagai moda transportasi harian dan logistik yang menopang aktivitas ekonomi.
Di sisi lain, sejumlah tantangan masih harus dihadapi. Mulai dari kondisi infrastruktur lama, topografi pegunungan yang membutuhkan pengendalian stabilitas lereng, hingga inventarisasi perlintasan sebidang yang bersinggungan langsung dengan permukiman warga.
Persoalan tenurial dan pemanfaatan ruang di sekitar trase historis yang telah berlangsung selama puluhan tahun juga membutuhkan inventarisasi yuridis secara cermat untuk mengantisipasi konflik di kemudian hari.
Pengendalian kawasan di sekitar stasiun juga perlu terintegrasi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi 2025–2045. Hal ini penting agar pertumbuhan ekonomi yang muncul tidak justru mendorong perkembangan permukiman baru ke kawasan yang memiliki risiko bencana tinggi.
Sumatera Barat kini berada pada momentum penting dalam membangun kembali sistem transportasinya.
Reaktivasi jalur kereta api bukan sekadar menghidupkan kembali rel yang pernah beroperasi. Lebih jauh, proyek tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan kembali transportasi, tata ruang, mitigasi bencana dan aktivitas ekonomi dalam satu sistem.