- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Peneliti UGM Temukan Rekahan Sedalam 20 Meter di Bawah Rumah, Diduga Jadi Saluran Migrasi Gas Pemicu Api Misterius di Sleman
Sleman, tvOnenews.com - Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menemukan adanya rekahan bawah permukaan sedalam kurang lebih 20 meter di bawah rumah milik Agus Yani.
Untuk diketahui, Agus merupakan warga Dusun Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta yang sejak akhir Mei lalu mengalami fenomena keluarnya ratusan api secara misterius.
Rekahan tersebut diduga menjadi jalur migrasi gas dari lapisan bawah tanah menuju permukaan yang kemudian memicu kemunculan api.
Temuan itu diperoleh setelah tim melakukan pemetaan menggunakan alat georadar atau geoscanner di lokasi kejadian.
Peneliti Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Departemen Teknologi UGM, Saptono Budi Samudro mengatakan bahwa fungsi alat tersebut digunakan untuk mendeteksi kemungkinan lokasi jalan keluar gas menuju permukaan.
"Georadar ini untuk melihat apa yang ada di bawah permukaan baik objek terpendam, lapisan-lapisan tanah maupun kalau ada retakan-retakan akan bisa dideteksi dengan alat ini," katanya saat dikonfirmasi, Kamis (11/6/2026).
Lebih lanjut, hasil pemetaan dari georadar sekaligus menjawab keresahan masyarakat dengan fenomena kemunculan api yang kini masih misteri ini.
Apalagi, secara proses dinamika bumi, wilayah ini berada di zona aktif tektonik sehingga bisa saja terdapat retakan pada lapisan bumi.
Meski demikian, peneliti masih perlu mendalami karakteristik retakan yang ditemukan, termasuk luas penyebaran dan kerapatannya.
Hasil sementara yang didapat oleh peneliti, ditemukan beberapa titik retakan di bawah tanah pada kedalaman hingga 20 meter yang diduga sebagai jalan keluarnya gas.
Akan tetapi, temuan tersebut perlu diolah lebih lanjut antara adanya retakan dengan senyawa pemicu api.
"Kita masih melihat sekilas, belum diolah lebih lanjut. Memang ada beberapa keterkaitan antara titik api dengan terlihat retakan di bawah sampai ke kedalaman sekitar 15-20 meter. Ini masih belum kita olah terkait kerapatan antara retakan dan kemunculan titik api yang selama ini muncul," ucap Saptono.
Lebih lanjut, tim juga menyebutkan perlu tindak lanjut penelitian dengan menggunakan alat geolistrik, seperti yang dilakukan oleh UPN Veteran Yogyakarta beberapa hari lalu.