news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Sebuah inovasi kreatif datang dari anak bangsa pelaku industri kopi di kota Yogyakarta..
Sumber :
  • Antara

Saat Ampas Kopi Berhenti Menjadi Sampah dan Mulai Menjadi Moralitas Baru

Sebuah inovasi kreatif datang dari anak bangsa pelaku industri kopi di kota Yogyakarta.
Minggu, 9 Agustus 2026 - 09:15 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Sebuah inovasi kreatif datang dari anak bangsa pelaku industri kopi di kota Yogyakarta. Aksi kolaborasi tersebut berhasil membuat inovasi mengubah ampas bubuk kopi dikonversi menjadi briket/kamper. Tak hanya itu, quaker kopi juga bisa disulap menjadi minyak yang dapat dipasarkan kembali.

Produk-produk ekologis ini dikembangkan melalui sebuah kolaborasi strategis, Program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk "Pemberdayaan Masyarakat untuk Peningkatan Kesadaran Ekologi, Etika Lingkungan dan Filosofi Zero Waste pada Produk Olahan Kopi" yang resmi diimplementasikan pada tahun 2026, yang digadang sebagai mercusuar baru ekonomi sirkular. 

Tim pengabdian ini dipimpin oleh Andhika Djalu Sembada, dengan latar belakang Filsafat dan Etika yang menanamkan landasan moral pada setiap aspek program. Didukung oleh Danang Prasetyo yang berfokus pada pengembangan ecologycal citizenship, serta Yarmanto yang menyusun strategi ekonomi sirkular agar produk turunan limbah ini memiliki daya saing pasar. Sinergi ini semakin kuat dengan dukungan penuh dari Yudhi Prasetyo, Founder  Koke, yang membuka akses penuh bagi transfer teknologi dan keterlibatan tenaga kerja dalam budaya kerja baru yang lebih hijau.

"Program pengabdian masyarakat ini adalah manifestasi nyata dari Eco-Literacy dan Ecologycal Citizenship. Dengan mengubah limbah kopi menjadi  value-added products  seperti briket/kamper dan bibit pewangi, harapannya Koke kini berdiri sebagai model percontohan nasional. Unit usaha ini tidak lagi hanya sekadar menjual produk kopi, tetapi juga menjual nilai-nilai keberlanjutan yang harmoni dengan alam," ungkap Andhika Djalu Sembada, selaku Ketua Tim Pengabdian.

Ia menyebut koridor industri kreatif Yogyakarta yang kian sesak ternyata memunculkan sebuah revolusi sunyi yang digerakkan dari kawasan Caturtunggal, Sleman. Hal ini bukan sekadar tentang kopi semata, melainkan tentang bagaimana sebuah unit usaha mendefinisikan ulang keberadaannya di hadapan alam. 

Bertempat di  Koke (Kopi Kreatif), program ini bertujuan menyatukan visi akademisi dengan realitas industri. Namun, di balik ambisi besar ini, terdapat kontradiksi tajam antara pertumbuhan ekonomi yang pesat dan residu ekologis yang mulai mengkhawatirkan. Andika menjelaskan saat ini Koke (Kopi Kreatif)  telah membuktikan tajinya sebagai unit usaha produktif pasca-pandemi dengan volume penjualan mencapai 5.000  pcs produk setiap bulannya. 

Namun kesuksesan tersebut, kata Andika, juga menyisakan "sisi gelap" yang tak kasat mata: akumulasi limbah padat yang menembus angka 0,8 hingga 1,5 ton per tahun. Setiap harinya, aktivitas produksi menghasilkan 2–4 kg ampas kopi basah dan sekitar 2–3% biji  quaker  (biji cacat atau tidak matang) dari total proses sangrai. 

Masalah ini jauh melampaui isu teknis manajemen sampah; yaitu isu etika lingkungan yang mendalam. Penumpukan residu organik ini, jika dibiarkan tanpa pengelolaan sistematis, menjadi "bom waktu" ekologis. Pembuangan limbah secara sembarangan memicu dekomposisi anaerobik yang melepaskan emisi gas metana—salah satu pemicu utama pemanasan global yang jauh lebih kuat dari karbon dioksida.

"Fenomena ini memperlihatkan adanya pemisahan aktivitas ekonomi dengan kesadaran terhadap alam, di mana pertumbuhan bisnis seolah terputus dari tanggung jawab etis terhadap ekosistem lokal," jelas Andika.

Salah satu anggota tim, Danang Prasetyo menjelaskan guna menjembatani kesenjangan tersebut, tim pengabdian mengintervensi lini produksi Koke dengan penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG)  tingkat industri. Kegiatan ini didanai oleh  Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi  melalui skema Pengabdian Masyarakat Pemula 2026  dalam ruang lingkup  Sosial Humaniora dengan dana Rp 21.030.000.

"Intervensi yang dilakukan bukan sekadar penambahan alat, melainkan perubahan radikal pada "sistem operasi" bisnis melalui  SOP Zero Waste," jelas Danang.

Sementara, Yarmanto menjelaskan sebanyak empat perangkat utama diintegrasikan untuk menciptakan nilai tambah ekonomi dari residu yang sebelumnya terbuang: Mesin Press Briket, Mesin Oil Press, Oven Listrik, Alat Press Botol. Ampas bubuk kopi dikonversi menjadi briket/kamper, sedangkan quaker kopi dikonversi menjadi minyak yang dapat dipasarkan kembali. Transformasi yang dilakukan tidak digerakkan oleh mesin semata, melainkan oleh sinergi kepakaran di balik layarnya.

"Program pengabdian masyarakat ini adalah manifestasi nyata dari  Eco-Literacy  dan  Ecologycal Citizenship," ungkap Yarmanto.

Yudhi Prasetyo, Founder Koke mengatakan dengan mengubah limbah kopi menjadi  value-added products  seperti briket/kamper dan bibit pewangi, harapannya Koke kini berdiri sebagai model percontohan nasional.

"Unit usaha ini tidak lagi hanya sekadar menjual produk kopi, tetapi juga menjual nilai-nilai keberlanjutan yang harmoni dengan alam," pungkasnya. (chm)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

06:16
12:21
02:04
03:45
02:28
03:25

Viral