- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
UGM Advokasi Hukum Mahasiswa yang jadi Korban Kekerasan dalam Ricuh Demo di Simpang Gramedia
Sleman, tvOnenews.com - Universitas Gadjah Mada (UGM) menyiapkan advokasi bagi mahasiswanya yang menjadi korban kekerasan dalam aksi demonstrasi yang berujung ricuh di kawasan simpang Gramedia, Kota Yogyakarta.
Aksi penyampaian aspirasi yang berlangsung hingga Selasa (1/9/2026) malam sempat memanas dan menyebabkan enam mahasiswa terluka, sesak napas hingga trauma.
Dari enam mahasiswa tersebut, lima di antaranya mahasiswa UGM, sementara seorang lainnya merupakan mahasiswa UNY.
Atas insiden tersebut, UGM memastikan mahasiswa terdampak tidak dibiarkan menghadapi persoalan tersebut seorang diri. Kampus menyiapkan pendampingan dan advokasi untuk memastikan hak serta keselamatan mahasiswa tetap mendapatkan perhatian.
"Kemarin teman-teman mahasiswa yang bergerak (ikut demo) sudah kita minta untuk mengumpulkan data-data dari sisi bukti-bukti dan sebagainya. Nanti kita bantu untuk mengawal teman-teman mahasiswa," tutur Hempri Suyatna, Direktur Kemahasiswaan UGM kepada awak media, Rabu (2/9/2026).
Berdasarkan data dari UGM, lima mahasiswanya yang terluka inisial NA (24), MMF (24), SK (25), Z (24) dan MT (24). Mereka berasal dari beragam fakultas meliputi hukum, filsafat dan fisipol.
Hempri kemudian menceritakan kronologi kericuhan dalam aksi demonstrasi tersebut. Kebetulan, ia turut membersamai para mahasiswanya saat menyampaikan aspirasi.
Sekitar pukul 16.30 WIB, para mahasiswa mulai berdatangan di Simpang Empat Gramedia untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran kritisnya atas kondisi sosial, ekonomi dan politik yang terjadi di negeri ini. Saat itu, aksi penyampaian aspirasi berlangsung kondusif.
Namun sekitar pukul 19.00 WIB, situasi langsung berubah mencekam ketika datang sekelompok masyarakat tertentu yang diduga melakukan provokasi.
"Orasi-orasi terhenti dan terjadi sedikit chaos sekitar jam 7 malam. Sebenarnya jam 7.20 malam sudah kembali normal kembali. Jam 8 malam teman-teman mahasiswa nyanyi-nyanyi," ungkap Hempri.
Ia pun mengungkap, situasi kembali memanas sekitar pukul 22.00 WIB ketika aparat kepolisian memukul mundur massa di lokasi. Dalam insiden ini, enam mahasiswa dari dua kampus dilaporkan menjadi korban.
"Mereka tiba-tiba jalan terus ada yang mukul, ada yang menghantam dan lain-lain. Ada yang sempat kena spicy spray. Di awal ada yang kena kemudian di akhir juga ada yang kena," ucap Hempri.
Akibat kekerasan tersebut, enam mahasiswa terpaksa dilarikan ke RS Panti Rapih guna mendapatkan penanganan medis.
Hal ini lantaran mereka mengalami lebam, memar, sesak napas bahkan trauma. Beruntungnya sekitar pukul 00.30 WIB, seluruh mahasiswa diperbolehkan pulang.
Untuk diketahui, terdapat sejumlah tuntutan yang disorot mahasiswa dalam aksi unjuk rasa ini. Pertama, mengenai penanganan bencana alam di Aceh, Kalimantan dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kemudian menyoroti kebijakan pemerintah terkait pemakaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk kepentingan seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa Merah Putih.
Kebijakan tersebut hanya dirasakan oleh masyarakat kaum-kaum elit dan tidak dirasakan oleh masyarakat menengah ke bawah. Hal ini lantaran anggaran untuk program politik tersebut harus mengorbankan anggaran pendidikan.
Selanjutnya, perihal subsidi yang dijanjikan oleh Prabowo-Gibran seperti pendidikan gratis, BBM gratis hingga transportasi publik gratis, semuanya adalah kebohongan.
Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat dan Alumni, Arie Sujito berharap insiden ini bisa menjadi perhatian bersama dalam menciptakan Yogyakarta bebas dari tindakan kekerasan sekaligus mencerminkan kebebasan ruang berekspresi dalam melihat situasi sosial, ekonomi dan politik.
"Kita harus berani untuk mengatakan bahwa Yogya anti teror, Yogya anti kekerasan dan biarkan masyarakat atau mahasiswa itu menyampaikan aspirasinya. Saya yakin bahwa itu bagian dari komitmen dalam merespon situasi terkini," pungkas Arie. (scp/buz)