- Kolase tvOnenews.com/ Instagram @dyahlfardisa
Imbas Polemik Pungli di Alkid Yogyakarta, Food Truck Bolosego Dibanjiri Review “Buruk” di Google, Pemilik Buka Suara
tvOnenews.com - Seorang pengusaha kuliner Bolosego, Dyah Laily Fardisa memutuskan tidak melanjutkan berjualan dengan food truck di kawasan Alun-Alun Kidul (Alkid) Yogyakarta.
Melalui akun TikTok @dyahfardisa, Dyah Laily Fardisa atau akrab disapa Mbak Dy menceritakan pengalamannya saat menghadapi sejumlah permintaan biaya tambahan yang disebut sebagai dugaan pungutan liar (pungli).
Namun, dirinya tak menyangka bahwa curahan hatinya akan menjadi sorotan publik hingga viral di media sosial.
Dirinya harus berhadapan dengan berbagai pungutan biaya yang disebut cukup besar, sekitar Rp2,5 juta per hari untuk parkir food truck.
Tak hanya itu, pihaknya juga harus menyediakan makanan untuk sejumlah orang termasuk oknum yang disebutnya preman atau juru parkir.
Setelah unggahannya viral di media sosial, Dyah memberikan tanggapan dari reaksi publik yang dinilai mendukungnya untuk memberantas pungli.
Tanggapan Pemilik Usaha Food Truck
Melalui unggahan Instagram stories pada akun @dyahlfardisa, Mbak Dy mengucapkan terima kasih atas support yang diberikan kepadanya dalam menghadapi polemik ini.
Sejak awal, dirinya tidak berniat untuk memicu kegaduhan maupun amarah publik. Namun dirinya menegaskan hanya ingin mengungkapkan perasaannya saat menghadapi kejadian tersebut.
Tak disangka, curhatnya justru dapat mewakili banyak orang yang tidak dapat bersuara.
“Mau mengucapkan terima kasih ke teman-teman semua yang selalu memberikan support. Tanpa pernah aku minta, karena memang dari awal aku tidak berniat untuk memunculkan kemarahan publik seperti sekarang,” ungkap Dyah Laily Fardisa pada unggahan Instagram stories miliknya.
“Tapi karena ternyata ocehan ku ini mewakili teman-teman semua yang dari kemarin tidak bersuara, jadi viralnya kemana-mana,” sambungnya.
- Tangkapan layar TikTok @dyahfardisa
Dyah mengaku tidak memiliki niat ataupun tujuan untuk memviralkan curhatannya. Namun publik meminta untuk menindaklanjuti polemik ini.
“Guys sebenarnya dari awal aku juga tidak berekspektasi apa-apa. Niatku cuma cerita keluh kesahku mendapatkan pungli. Tapi karena ternyata ini seperti ‘Voicing the Voiceless’, ya sekarang ekspektasi ku tinggi,” terang Dyah.
“Ibarat kata sekarang diskursus sudah jelas ya. Desakan masyarakat adalah meminta pungli itu ditindaklanjuti dan ditertibkan, ya masa pemerintah nggak gerak. Kalau daerah lain saja bisa ditertibkan, Jogja harusnya bisa,” lanjutnya.