- Istockphoto
Harga Mobil Baru di AS Naik Tajam Akibat Tarif Impor 25%: Konsumen Bayar Lebih Mahal
Jakarta, tvOnenews.com - Harga kendaraan baru di Amerika Serikat melonjak signifikan pada April 2025, dipicu oleh kebijakan tarif impor 25 persen yang diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Data dari Kelley Blue Book yang dirilis Cox Automotive mencatat, harga rata-rata yang dibayarkan konsumen—setelah diskon dan promosi—naik 2,5 persen dibandingkan Maret. Ini merupakan kenaikan bulanan tertinggi kedua dalam 10 tahun terakhir, hanya kalah dari lonjakan harga April 2020 saat pandemi.
Tarif Impor 25% Dorong Kenaikan Harga Mobil
Tarif impor baru sebesar 25% ini dikenakan terhadap kendaraan yang diimpor dari negara-negara mitra dagang utama AS seperti Meksiko dan Kanada. Meski produsen belum menaikkan harga stiker secara resmi, biaya tambahan tarif mulai dirasakan langsung oleh konsumen di harga transaksi akhir.
Beberapa merek seperti Ford, Hyundai, dan Stellantis (Jeep) mencoba menyeimbangkan pasar dengan memberikan insentif terbatas, namun tidak cukup menahan laju kenaikan harga.
“Permintaan meningkat karena masyarakat ingin membeli sebelum harga lebih tinggi lagi,” kata Erin Keating, analis utama Cox Automotive.
Ford Naikkan Harga hingga US$2.000
Beberapa model Ford seperti Mustang Mach-E, Maverick, dan Bronco Sport yang diproduksi di Meksiko, naik harga hingga US$2.000. Langkah ini diambil setelah produsen menerima tekanan langsung dari tarif impor tinggi.
Harga Mobil Bekas Ikut Melonjak
Tidak hanya mobil baru, harga mobil bekas juga naik tajam. Menurut Manheim Used Vehicle Value Index, harga kendaraan bekas naik 4,9 persen secara tahunan dan 2,7 persen dibandingkan Maret.
Penurunan stok nasional ke bawah 2,6 juta unit membuat tekanan harga kian meningkat, terutama jika pengiriman impor terganggu lebih lanjut.
“Kami khawatir tentang rantai pasok. Saat ini memang sehat, tapi risikonya tetap ada,” ujar Paul Zimmermann, pemilik dealer Toyota-GM di Michigan.
Diskon dan Promosi Menyusut Tajam
Program insentif seperti diskon dan promo kini berada di level terendah sejak musim panas 2024. Ini memperkuat beban finansial konsumen karena harus membayar lebih mahal untuk mobil, baik baru maupun bekas.