news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi - Bursa Efek Indonesia (BEI)..
Sumber :
  • tvOnenews.com/Rilo Pambudi

3 BUMN Terancam Didepak dari Bursa! Begini Kondisi Miris Indofarma (INAF), Waskita (WSKT), dan Wijaya Karya (WIKA)

Dari total 70 emiten yang masuk radar delisting Bursa Efek Indonesia (BEI), keberadaan tiga BUMN besar yang ikut terancam terdepak dari pasar menjadi sorotan.
Minggu, 4 Januari 2026 - 16:34 WIB
Reporter:
Editor :

Akibat rangkaian persoalan tersebut, Indofarma mencatat indikasi kerugian sebesar Rp294,77 miliar serta piutang bermasalah mencapai Rp122,93 miliar.

Saham INAF sendiri telah disuspensi sejak 2 Juli 2024, sehingga perseroan kini menghadapi risiko mendekati batas maksimal 24 bulan suspensi.

2. Waskita Karya (WSKT): Tertekan Utang Obligasi

Gagal Bayar Surat Utang Senilai Rp1,361 Triliun, Mayoritas Pemegang Obligasi PT Waskita Karya Tbk Menolak Memberi Keringanan Pembayaran
Sumber :
  • Antara Foto

PT Waskita Karya Tbk juga menghadapi ancaman serupa setelah gagal memenuhi kewajiban pembayaran utang. 

Saham WSKT disuspensi sejak Mei 2024 menyusul kegagalan perseroan membayar bunga ke-20 serta pokok Obligasi Berkelanjutan III Tahap IV Tahun 2019 Seri B yang jatuh tempo.

Nilai obligasi tersebut mencapai Rp1,36 triliun dengan tingkat bunga tetap 9,75 persen per tahun. Surat utang ini memiliki tenor lima tahun dan jatuh tempo pada 16 Mei 2024.

3. Wijaya Karya (WIKA): Rugi Bengkak dan Beban Proyek Kereta Cepat

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).
Sumber :
  • Dok. WIKA

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk turut masuk dalam daftar saham yang disuspensi sejak 18 Februari 2025.

Langkah ini diambil setelah perseroan menunda pembayaran pokok sukuk dan obligasi yang jatuh tempo pada tanggal tersebut.

Kondisi keuangan WIKA menunjukkan tekanan berat. Pada laporan keuangan 2023, perseroan mencatat rugi bersih sebesar Rp7,12 triliun, melonjak drastis dibandingkan tahun sebelumnya.

Hingga kuartal III/2025, WIKA masih membukukan rugi bersih Rp3,21 triliun, berbalik dari laba Rp741,43 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Selain beban bunga yang tinggi, kinerja negatif WIKA turut dipengaruhi oleh kontribusi kerugian dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia, pemegang saham utama Kereta Cepat Whoosh.

Dengan kepemilikan sekitar 38 persen saham di PSBI, WIKA menanggung beban operasional proyek kereta cepat yang cukup signifikan.

Ancaman delisting ini menjadi peringatan serius bagi investor publik yang sahamnya nyangkut di ketiga perusahaan tersebut.

Sebab jika didepak dari pasar, saham-sahamnya tidak lagi bisa diperdagangkan secara terbuka sehingga likuiditasnya akan hilang dan aset investor terancam hangus. (rpi)

Berita Terkait

1
2
Tampilkan Semua

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:01
05:20
03:42
28:51
12:19
16:55

Viral