news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Drama OJK dan Efek Domino ke IHSG, Analis Ungkap Akar Masalah Bukan Sekadar Teknis.
Sumber :
  • istimewa - antaranews

Pasar Keuangan RI Kompak Melemah, IHSG Ambruk, Rupiah Tertekan, dan Imbal Hasil SBN Naik

Pasar keuangan Indonesia ditutup memburuk. IHSG anjlok 2%, rupiah melemah ke Rp16.860/US$, dan imbal hasil SBN 10 tahun melonjak ke 6,44%.
Senin, 9 Februari 2026 - 07:59 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Pasar keuangan Indonesia ditutup memburuk secara keseluruhan pada akhir pekan lalu. Tekanan terjadi serentak di pasar saham, nilai tukar rupiah, hingga pasar obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN), mencerminkan meningkatnya sikap hati-hati investor di tengah dinamika global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat (6/2/2026) dengan penurunan tajam 2% atau anjlok 168,62 poin ke level 7.935,26. Pelemahan ini disertai dominasi saham merah, dengan 673 saham turun, 118 saham menguat, dan 167 saham stagnan.

Nilai transaksi tercatat hanya Rp19,2 triliun, melibatkan 32,74 miliar saham dalam sekitar 2,2 juta kali transaksi. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata transaksi harian pada Januari yang sempat menembus Rp30 triliun. Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see investor di tengah volatilitas pasar yang meningkat.

Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia pun tergerus menjadi Rp14.341 triliun, seiring aksi jual yang kembali mendominasi perdagangan. Dari sisi sektoral, tekanan paling besar datang dari saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip.

Mengutip data perdagangan, saham Bank Central Asia (BBCA) turun 1,6% ke level 7.675 dan memberikan kontribusi negatif sekitar 11,84 poin terhadap IHSG. Disusul Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang menyumbang tekanan sekitar 11 poin, serta Astra International (ASII) yang menekan indeks sekitar 10,24 poin.

Pelemahan IHSG sejalan dengan tekanan yang juga dialami pasar mata uang. Rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah melemah 0,21% ke level Rp16.860/US$, melanjutkan penurunan pada sesi sebelumnya yang mencapai 0,36% ke Rp16.825/US$.

Level penutupan tersebut menjadi yang terlemah dalam dua pekan terakhir atau sejak 22 Januari 2026. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di kisaran Rp16.850 hingga Rp16.888 per dolar AS, mencerminkan tekanan yang relatif konsisten sepanjang sesi.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS secara global. Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB tercatat menguat tipis 0,02% di level 97,845. Minat investor terhadap aset berdenominasi dolar meningkat seiring meningkatnya sikap risk-off di pasar global, terutama di tengah tekanan saham teknologi dan kekhawatiran terhadap belanja besar sektor kecerdasan buatan (AI).

Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan kebijakan moneter AS setelah Presiden Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve. Pelaku pasar menilai Warsh berpotensi tidak terlalu agresif dalam memangkas suku bunga, sehingga menopang penguatan dolar dan menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Tekanan di pasar keuangan domestik juga terlihat jelas di pasar obligasi. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik signifikan ke level 6,44%, dari posisi sebelumnya di 6,32% pada Kamis (5/2/2026). Sepanjang perdagangan Jumat, yield SBN 10 tahun bergerak di rentang 6,317% hingga 6,444%, menandakan kuatnya aksi jual di pasar surat utang.

Kenaikan yield ini membawa imbal hasil SBN kembali ke level yang setara dengan September 2025. Pergerakan tersebut memiliki korelasi kuat dengan pelemahan rupiah dan tekanan di pasar saham, karena investor cenderung menarik dana dari aset berisiko di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Kondisi pasar keuangan Indonesia yang memburuk ini terjadi di saat bursa saham Amerika Serikat justru ditutup menguat tajam. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) mencetak rekor baru dengan menembus level 50.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah. DJIA melonjak 2,47% atau 1.206,95 poin ke posisi 50.115,67, disusul penguatan S&P 500 sebesar 1,97% dan Nasdaq Composite sebesar 2,18%.

Meski Wall Street menguat, sentimen positif global belum cukup kuat untuk menopang pasar domestik. Investor di dalam negeri masih dibayangi kekhawatiran terhadap arus modal asing, volatilitas nilai tukar, serta arah kebijakan moneter global yang belum sepenuhnya pasti.

Pelaku pasar juga mencermati rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dan arus dana asing ke pasar domestik yang menjadi penggerak utama perdagangan hari ini. Minimnya inflow dan dominasi aksi jual dinilai menjadi faktor utama di balik pelemahan serentak IHSG, rupiah, dan SBN.

Dengan kondisi tersebut, pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan dalam jangka pendek. Investor cenderung bersikap defensif sambil menunggu kejelasan arah kebijakan global, stabilitas nilai tukar, serta perkembangan data ekonomi domestik yang dapat memberikan sinyal pemulihan atau lanjutan tekanan di pasar keuangan nasional. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:06
04:15
01:40
02:00
03:00
05:29

Viral