news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Gedung Bank Indonesia.
Sumber :
  • dok. Bank Indonesia

Bank Indonesia Catat Penjualan Ritel Melejit 7,9 Persen, Tapi Sinyal Kenaikan Harga Muncul

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan kinerja penjualan ritel pada Januari 2026 diperkirakan tumbuh kuat secara tahunan.
Rabu, 11 Februari 2026 - 13:10 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com — Bank Indonesia (BI) menangkap dua sinyal berbeda dari pergerakan ekonomi awal tahun. Konsumsi masyarakat terlihat menguat, namun bayang-bayang kenaikan harga menjelang Idulfitri mulai terdeteksi.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan kinerja penjualan ritel pada Januari 2026 diperkirakan tumbuh kuat secara tahunan. Hal itu tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR).

“Kinerja penjualan eceran pada Januari 2026 diprakirakan meningkat secara tahunan. Hal ini tecermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Januari 2026 yang diprakirakan tumbuh sebesar 7,9 persen (yoy),” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (11/2/2026).

Lonjakan tersebut terutama didorong oleh konsumsi pada kelompok Barang Budaya dan Rekreasi, Makanan, Minuman dan Tembakau, serta Sandang. Artinya, daya beli masyarakat masih bergerak, terutama pada sektor yang berkaitan langsung dengan aktivitas sosial dan kebutuhan harian.

Namun secara bulanan, konsumsi justru menurun. BI menilai kondisi itu wajar karena efek belanja besar saat Natal dan Tahun Baru mulai mereda.

“Secara bulanan, penjualan eceran pada Januari 2026 diprakirakan terkontraksi sebesar 0,6 persen (mtm) sejalan dengan normalisasi konsumsi masyarakat setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru. Meski demikian, kontraksi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan kontraksi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,7 persen (mtm),” jelasnya.

Sebelumnya pada Desember 2025, konsumsi sempat meningkat cukup tinggi akibat momentum libur panjang. IPR Desember tercatat tumbuh 3,5 persen secara tahunan dan 3,1 persen secara bulanan, ditopang oleh penjualan suku cadang, makanan minuman, serta barang rekreasi dan perangkat komunikasi.

Meski konsumsi masih terjaga, BI mulai mencermati tekanan harga. Indikator ekspektasi masyarakat memperlihatkan potensi kenaikan inflasi beberapa bulan ke depan, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran.

“Dari sisi harga, tekanan inflasi tiga dan enam bulan yang akan datang, yaitu Maret dan Juni 2026, diprakirakan meningkat,” kata Ramdan.

Peningkatan itu terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Maret dan Juni 2026 yang naik menjadi 175,7 dan 156,3, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

BI menilai kenaikan ekspektasi harga didorong antisipasi lonjakan permintaan saat HBKN Idulfitri 1447 H. Artinya, roda konsumsi berpotensi semakin kencang, namun bersamaan dengan itu risiko kenaikan harga juga mulai menguat. (agr/rpi)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:26
01:07
01:15
01:56
01:13
05:12

Viral