- Antara
Rupiah Tergelincir ke Rp16.788, Ketegangan AS–Iran Bikin Pasar Global Waspada
Jakarta, tvOnenews.com — Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Jumat (27/2/2026). Mata uang Garuda melemah 29 poin atau sekitar 0,17 persen ke level Rp16.788 per dolar AS, seiring menguatnya dolar Amerika Serikat dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik global.
Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, pelemahan rupiah terjadi setelah sehari sebelumnya ditutup di posisi Rp16.759 per dolar AS. Tekanan datang terutama dari eksternal, di tengah sikap hati-hati investor global yang kembali menguat.
Dolar AS Menguat, Rupiah Tertekan
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah masih berpotensi berada dalam tekanan dalam jangka pendek. Menurutnya, penguatan dolar AS dipicu oleh rilis data manufaktur dan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang hasilnya lebih baik dari perkiraan pasar.
Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar kembali memburu aset berbasis dolar AS, sehingga memberi tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Rupiah masih tertekan oleh penguatan dolar AS setelah data ekonomi AS keluar cukup solid,” ujar Lukman saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Ia memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini berada di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan volatilitas yang masih cukup tinggi.
Sentimen Geopolitik Jadi Beban Tambahan
Selain faktor data ekonomi, sentimen geopolitik turut menjadi pemberat pergerakan rupiah. Investor global masih mencermati hasil perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum menghasilkan kesepakatan konkret.
Ketidakpastian tersebut memicu kembali sentimen risk off, di mana pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman (safe haven). Dampaknya tidak hanya dirasakan di pasar valuta asing, tetapi juga di pasar ekuitas global.
“Pasar masih mencerna hasil perundingan AS–Iran yang belum menemui titik temu. Ini memicu kehati-hatian investor dan menekan mata uang berisiko seperti rupiah,” kata Lukman.
Proyeksi Analis: Rupiah Masih Melemah
Pandangan senada disampaikan analis Bank Woori Saudara, Rully Nova. Ia memperkirakan rupiah berpotensi diperdagangkan melemah dalam rentang Rp16.730 hingga Rp16.790 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.
Menurut Rully, tekanan terhadap rupiah saat ini hampir sepenuhnya berasal dari faktor global. Dari sisi domestik, sentimen dinilai masih relatif minim dan belum cukup kuat untuk menahan laju pelemahan.
“Risiko geopolitik global, khususnya konflik dan ketegangan AS–Iran, mendorong investor mengalihkan dana ke aset safe haven. Dari domestik, sentimennya masih minim,” ujar Rully.
Pergerakan Dolar AS Bervariasi
Di sisi lain, meskipun menguat terhadap rupiah, pergerakan dolar AS terhadap mata uang utama dunia terpantau bervariasi. Greenback tercatat melemah tipis 0,02 persen terhadap euro dan turun 0,14 persen terhadap yen Jepang.
Dolar AS juga melemah masing-masing 0,04 persen terhadap dolar Kanada dan 0,06 persen terhadap franc Swiss. Namun, mata uang Negeri Paman Sam justru menguat 0,04 persen terhadap dolar Australia dan bergerak stagnan terhadap poundsterling Inggris.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan dolar AS tidak bersifat merata, melainkan sangat dipengaruhi oleh sentimen regional dan karakter masing-masing mata uang.
Pasar Tunggu Arah Baru
Pelaku pasar kini cenderung menahan diri sembari menunggu perkembangan lanjutan dari isu geopolitik global serta rilis data ekonomi selanjutnya dari Amerika Serikat. Selama ketidakpastian masih tinggi, rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
Analis menilai, stabilisasi rupiah membutuhkan kombinasi sentimen positif global dan dorongan dari dalam negeri. Tanpa itu, tekanan eksternal masih akan mendominasi pergerakan nilai tukar dalam waktu dekat.
Dengan kondisi global yang belum sepenuhnya kondusif, pasar diminta tetap waspada terhadap potensi volatilitas lanjutan, terutama jika ketegangan geopolitik kembali meningkat atau data ekonomi AS terus menunjukkan penguatan. (nsp)