- Antara Foto
Emas Dunia Meledak Jelang Akhir Pekan, Investor Berbondong-bondong Cari Aman
Jakarta, tvOnenews.com - Harga emas dunia mencatat lonjakan tajam pada penutupan perdagangan terakhir pekan ini. Logam mulia kembali menunjukkan tajinya sebagai aset lindung nilai di tengah tekanan inflasi Amerika Serikat dan meningkatnya ketidakpastian global yang membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko.
Berdasarkan data Refinitiv, harga emas dunia di pasar spot ditutup menguat signifikan ke level US$5.277,29 per troy ounce pada perdagangan Jumat (27/2/2026). Capaian ini melonjak 1,74 persen dalam sehari dan menjadi posisi tertinggi dalam satu bulan terakhir atau sejak 30 Januari 2026.
Tak hanya menguat secara harian, kinerja emas juga terlihat impresif secara mingguan. Sepanjang pekan ini, harga emas global tercatat naik 3,41 persen, menandakan sentimen positif yang kuat dari investor global.
Inflasi AS Jadi Pemicu Utama
Lonjakan harga emas terjadi setelah rilis data inflasi produsen Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi pasar. Data Producer Price Index (PPI) tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam membaca arah inflasi dan kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan PPI final demand pada Januari 2026 naik 0,5 persen secara bulanan. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 0,3 persen, sekaligus melampaui kenaikan bulan Desember yang direvisi naik menjadi 0,4 persen.
Kenaikan inflasi produsen terutama didorong oleh sektor jasa yang melonjak 0,8 persen. Salah satu penyumbang terbesar berasal dari margin jasa perdagangan yang naik tajam hingga 2,5 persen. Meski demikian, secara tahunan inflasi produsen tercatat melambat menjadi 2,9 persen.
Data tersebut memunculkan kekhawatiran baru di pasar. Inflasi yang masih relatif tinggi menandakan tekanan harga belum sepenuhnya reda, sehingga peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil.
Pasar Waspada Sikap The Fed
Sebagian komponen dalam data PPI juga digunakan untuk menghitung inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), yang merupakan indikator inflasi favorit The Federal Reserve. Karena itu, data PPI yang lebih tinggi dari perkiraan langsung memicu kewaspadaan pelaku pasar.
Sejumlah ekonom bahkan memperkirakan inflasi inti PCE Januari bisa mencapai 0,5 persen. Jika terealisasi, angka tersebut berpotensi memperkuat sikap bank sentral AS untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Data resmi PCE sendiri baru akan dirilis pada 13 Maret mendatang.
Kondisi ini menciptakan dilema bagi investor. Di satu sisi, suku bunga tinggi biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas. Namun di sisi lain, kekhawatiran inflasi yang membandel justru mendorong investor memburu emas sebagai pelindung nilai terhadap penurunan daya beli.
Ketegangan Global Tambah Daya Tarik Emas
Selain faktor inflasi, emas juga mendapat dorongan kuat dari meningkatnya ketidakpastian global. Amerika Serikat mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10 persen pada pekan ini. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas perdagangan internasional.
Situasi semakin memanas setelah pejabat Gedung Putih menyebut pemerintahan Donald Trump tengah mengkaji kemungkinan menaikkan tarif impor tersebut hingga 15 persen. Rencana ini dinilai berpotensi menambah tekanan inflasi sekaligus memperlambat aktivitas perdagangan global.
Dalam pidato kenegaraannya, Trump juga menyatakan hampir semua negara dan korporasi ingin mempertahankan kesepakatan tarif dan investasi dengan Washington. Pernyataan itu justru menegaskan adanya tarik-menarik kepentingan yang dapat memicu volatilitas pasar keuangan global.
Ketegangan perdagangan dan ketidakpastian arah kebijakan ekonomi ini membuat minat terhadap aset safe haven tetap terjaga. Emas kembali menjadi pilihan utama investor untuk mengamankan portofolio menjelang akhir pekan.
Safe Haven Kembali Bersinar
Secara historis, emas dikenal sebagai aset lindung nilai saat pasar diliputi ketidakpastian ekonomi, politik, maupun geopolitik. Logam mulia juga kerap diuntungkan ketika inflasi tinggi karena nilainya dianggap mampu menjaga daya beli.
Meski emas biasanya tertekan saat suku bunga tinggi, kondisi pasar saat ini menunjukkan faktor ketidakpastian dan inflasi lebih dominan dibandingkan sentimen suku bunga. Hal inilah yang mendorong reli harga emas dalam beberapa hari terakhir.
Analis menilai, selama tekanan inflasi AS belum sepenuhnya mereda dan ketegangan global masih berlangsung, harga emas berpeluang tetap berada di level tinggi. Namun, pasar juga akan mencermati rilis data PCE dan sinyal lanjutan dari The Fed untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Lonjakan harga emas pada penutupan pekan ini menegaskan kembali peran emas sebagai aset perlindungan di tengah badai ketidakpastian. Bagi investor global, emas kembali menjadi tempat berlindung yang paling dicari. (nsp)