- ANTARA
Bukan Cuma Rupiah! Mata Uang Asia Kompak Menguat Usai Sinyal Perang Mereda
Jakarta, tvOnenews.com - Pergerakan pasar keuangan Asia pada Selasa (10/3/2026) menunjukkan perubahan sentimen yang cukup signifikan. Mata uang Asia menguat secara kompak terhadap dolar Amerika Serikat setelah muncul sinyal meredanya ketegangan geopolitik global.
Tidak hanya rupiah yang menguat, sejumlah mata uang Asia menguat di awal perdagangan hari ini. Penguatan terjadi pada berbagai mata uang di kawasan yang selama ini sensitif terhadap perubahan harga energi dan dinamika geopolitik global.
Beberapa mata uang Asia menguat antara lain:
-
Baht Thailand
-
Ringgit Malaysia
-
Peso Filipina
-
Rupiah Indonesia
-
Dolar Taiwan
-
Yuan China
-
Won Korea Selatan
-
Yen Jepang
Kondisi ini menunjukkan bahwa mata uang Asia menguat secara kolektif karena perubahan sentimen pasar global yang mulai membaik.
Rupiah Ikut Menguat Seiring Tren Mata Uang Asia
Sejalan dengan tren mata uang Asia menguat, rupiah juga mencatatkan penguatan terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini.
Pada pembukaan pasar spot, nilai tukar rupiah tercatat menguat 0,41 persen ke posisi Rp16.875 per dolar AS. Tak lama kemudian, rupiah kembali menguat 0,45 persen menjadi Rp16.869 per dolar AS sekitar pukul 09.10 WIB.
Pergerakan ini menegaskan bahwa tren mata uang Asia menguat tidak hanya terjadi pada satu negara, melainkan menjadi fenomena regional yang dipicu oleh sentimen global.
Namun tidak semua mata uang Asia mengalami penguatan. Dalam perdagangan pagi ini, dolar Singapura dan dolar Hong Kong justru tercatat masih mengalami pelemahan.
Sentimen Geopolitik Jadi Pemicu Mata Uang Asia Menguat
Penguatan yang terjadi pada berbagai mata uang Asia menguat hari ini tidak lepas dari perubahan sentimen geopolitik global.
Pasar keuangan dunia sebelumnya sempat dilanda kekhawatiran akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ketegangan tersebut sempat mendorong investor global beralih ke aset aman seperti dolar AS.
Namun situasi mulai berubah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa perang dengan Iran berpotensi segera berakhir dan operasi militer berjalan lebih cepat dari jadwal.
Pernyataan tersebut memberikan harapan bahwa konflik tidak akan berlangsung lama, sehingga membuat pelaku pasar mulai berani kembali mengambil risiko di pasar keuangan.
Perubahan sentimen ini kemudian mendorong mata uang Asia menguat karena investor kembali masuk ke aset di negara berkembang.
Harga Minyak Dunia Turun Tajam
Selain sentimen geopolitik, penguatan mata uang Asia menguat juga dipicu oleh penurunan harga minyak dunia yang cukup drastis.
Harga minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 10,07 persen menjadi 88,99 dolar AS per barel pada pukul 09.10 WIB. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan hingga sekitar 10 persen.
Penurunan harga energi ini memberi sentimen positif bagi negara-negara Asia yang sebagian besar merupakan pengimpor minyak.
Dengan biaya energi yang berpotensi lebih rendah, tekanan terhadap ekonomi negara-negara Asia bisa berkurang. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa mata uang Asia menguat pada perdagangan hari ini.
Pelemahan Dolar AS Dorong Penguatan Mata Uang Asia
Selain faktor minyak, pelemahan dolar AS juga memberikan dorongan tambahan bagi mata uang Asia menguat.
Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia tercatat melemah sekitar 0,35 persen ke level 98,83.
Ketika dolar melemah, mata uang negara berkembang biasanya memiliki ruang lebih besar untuk menguat. Hal inilah yang membuat banyak mata uang Asia menguat secara bersamaan di awal perdagangan hari ini.
Bursa Saham Asia Ikut Melonjak
Penguatan mata uang Asia menguat juga terjadi bersamaan dengan lonjakan di pasar saham kawasan.
Sejumlah bursa utama Asia mencatat kenaikan tajam pada perdagangan pagi:
-
Bursa Jepang naik 3,52 persen
-
Bursa Korea Selatan melonjak 4,75 persen
-
Bursa Taiwan menguat 3,35 persen
-
Bursa saham Indonesia dibuka naik sekitar 1,7 persen
Kenaikan bursa saham ini menunjukkan munculnya sentimen risk-on, yaitu kondisi ketika investor mulai kembali berani mengambil risiko di pasar keuangan.
Situasi tersebut biasanya juga berdampak positif terhadap pergerakan mata uang Asia menguat.
Prospek Mata Uang Asia Masih Bergantung Situasi Global
Meski mata uang Asia menguat pada perdagangan hari ini, arah pergerakan dalam beberapa pekan ke depan masih sangat bergantung pada kondisi global.
Jika konflik geopolitik benar-benar mereda dan harga energi kembali stabil, maka arus modal asing berpotensi kembali masuk ke berbagai negara Asia.
Kondisi tersebut dapat memperkuat tren mata uang Asia menguat, termasuk rupiah.
Namun jika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat, pasar keuangan global bisa kembali mengalami volatilitas. Dalam situasi tersebut, investor biasanya kembali mencari aset aman seperti dolar AS.
Karena itu, meskipun saat ini mata uang Asia menguat, pelaku pasar tetap memantau perkembangan geopolitik global yang dapat dengan cepat mengubah arah pergerakan pasar keuangan. (nsp)