- Antara
BI Diprediksi Tahan Suku Bunga di 4,75 Persen, Rupiah Tertekan dan Modal Asing Keluar
Kondisi ini secara langsung membatasi ruang BI untuk menurunkan suku bunga. Jika BI tetap memangkas suku bunga saat selisih dengan The Fed menyempit, maka risiko tekanan terhadap rupiah akan semakin besar.
“Jika The Fed hanya memangkas satu kali, maka BI kemungkinan juga hanya memiliki ruang pemangkasan yang sangat terbatas,” demikian pandangan ekonom.
Arus Modal Keluar dan Imbal Hasil Naik
Tekanan eksternal juga tercermin dari arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik. Data menunjukkan Indonesia mencatat arus keluar modal sebesar 0,63 miliar dolar AS dalam 30 hari terakhir.
Bahkan sejak awal konflik AS-Iran, total arus keluar modal telah mencapai sekitar 0,75 miliar dolar AS. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah.
Seiring dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah juga mengalami kenaikan signifikan, baik untuk tenor jangka pendek maupun panjang:
-
Tenor 1 tahun: naik dari 4,82 persen menjadi 5,65 persen
-
Tenor 10 tahun: naik dari 6,39 persen menjadi 6,75 persen
Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek.
Rupiah Melemah, Tapi Masih Moderat
Nilai tukar rupiah tercatat mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Hingga pertengahan Maret 2026, rupiah telah terdepresiasi sekitar:
-
1,6 persen (year to date/ytd)
-
Sekitar 1 persen sejak konflik AS-Iran dimulai
-
3,64 persen secara tahunan (year on year/yoy)
Meski demikian, pelemahan rupiah dinilai masih relatif moderat dibandingkan beberapa negara berkembang lainnya. Hal ini menunjukkan peran aktif Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai kebijakan.
Peluang Penguatan Tetap Ada
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, melihat peluang penguatan rupiah tetap terbuka. Namun, dalam jangka pendek, tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan.
Menurutnya, penguatan rupiah akan lebih solid jika stabilitas global mulai membaik. Selain itu, fundamental domestik seperti kondisi fiskal, inflasi, dan kredibilitas kebijakan juga harus tetap terjaga.
Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, arah kebijakan BI dalam RDG Maret 2026 diperkirakan akan tetap berhati-hati.