news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta..
Sumber :
  • Antara

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga di 4,75 Persen, Rupiah Tertekan dan Modal Asing Keluar

BI diproyeksi tahan suku bunga 4,75 persen di RDG Maret 2026, tekanan global dan pelemahan rupiah jadi alasan utama di tengah arus modal keluar.
Selasa, 17 Maret 2026 - 10:13 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2026. Keputusan ini diproyeksikan diambil di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi, terutama akibat ketidakpastian global dan gejolak geopolitik yang berdampak pada nilai tukar rupiah.

Sejumlah ekonom menilai langkah menahan suku bunga menjadi pilihan paling realistis saat ini guna menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Tekanan terhadap rupiah yang masih berlangsung membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter semakin terbatas.

Tekanan Global Jadi Faktor Penentu

Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menilai tekanan eksternal masih cukup kuat sehingga daya tarik aset berdenominasi rupiah harus tetap dijaga. Dalam kondisi ini, kebijakan suku bunga menjadi instrumen penting untuk menahan aliran keluar modal dan menjaga stabilitas nilai tukar.

Menurutnya, arah pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh dinamika global, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, prospek peringkat utang (sovereign rating) Indonesia juga menjadi faktor yang turut menentukan sentimen investor terhadap aset domestik.

Ketidakpastian yang berkepanjangan membuat investor cenderung bersikap hati-hati, bahkan menarik dananya dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Efek Perang dan Harga Minyak

Dari sisi lain, Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, menilai konflik geopolitik yang berkepanjangan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak global. Hal ini pada akhirnya akan berdampak pada inflasi global, termasuk Indonesia.

Kenaikan harga energi berisiko mempersempit ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Bahkan, jika harga minyak bertahan tinggi di atas 100 dolar AS per barel, arah kebijakan bisa berubah menjadi lebih ketat.

Dalam kondisi tersebut, bukan tidak mungkin BI justru mengambil sikap lebih hawkish atau menaikkan suku bunga demi menjaga stabilitas ekonomi.

Ruang Penurunan Suku Bunga Semakin Sempit

Ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) juga menjadi faktor penting. Saat ini, pasar memperkirakan The Fed hanya akan memangkas suku bunga satu kali sepanjang 2026, kemungkinan pada akhir tahun.

Kondisi ini secara langsung membatasi ruang BI untuk menurunkan suku bunga. Jika BI tetap memangkas suku bunga saat selisih dengan The Fed menyempit, maka risiko tekanan terhadap rupiah akan semakin besar.

“Jika The Fed hanya memangkas satu kali, maka BI kemungkinan juga hanya memiliki ruang pemangkasan yang sangat terbatas,” demikian pandangan ekonom.

Arus Modal Keluar dan Imbal Hasil Naik

Tekanan eksternal juga tercermin dari arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik. Data menunjukkan Indonesia mencatat arus keluar modal sebesar 0,63 miliar dolar AS dalam 30 hari terakhir.

Bahkan sejak awal konflik AS-Iran, total arus keluar modal telah mencapai sekitar 0,75 miliar dolar AS. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah.

Seiring dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah juga mengalami kenaikan signifikan, baik untuk tenor jangka pendek maupun panjang:

  • Tenor 1 tahun: naik dari 4,82 persen menjadi 5,65 persen

  • Tenor 10 tahun: naik dari 6,39 persen menjadi 6,75 persen

Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek.

Rupiah Melemah, Tapi Masih Moderat

Nilai tukar rupiah tercatat mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir. Hingga pertengahan Maret 2026, rupiah telah terdepresiasi sekitar:

  • 1,6 persen (year to date/ytd)

  • Sekitar 1 persen sejak konflik AS-Iran dimulai

  • 3,64 persen secara tahunan (year on year/yoy)

Meski demikian, pelemahan rupiah dinilai masih relatif moderat dibandingkan beberapa negara berkembang lainnya. Hal ini menunjukkan peran aktif Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai kebijakan.

Peluang Penguatan Tetap Ada

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, melihat peluang penguatan rupiah tetap terbuka. Namun, dalam jangka pendek, tekanan eksternal masih menjadi faktor dominan.

Menurutnya, penguatan rupiah akan lebih solid jika stabilitas global mulai membaik. Selain itu, fundamental domestik seperti kondisi fiskal, inflasi, dan kredibilitas kebijakan juga harus tetap terjaga.

Dengan kombinasi faktor global dan domestik tersebut, arah kebijakan BI dalam RDG Maret 2026 diperkirakan akan tetap berhati-hati.

BI Prioritaskan Stabilitas

Di tengah ketidakpastian global, menjaga stabilitas menjadi prioritas utama Bank Indonesia. Menahan BI-Rate di level 4,75 persen dinilai sebagai langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar.

Keputusan ini sekaligus menunjukkan bahwa ruang pelonggaran kebijakan moneter masih sangat terbatas, setidaknya hingga tekanan eksternal mereda.

Dengan kondisi saat ini, pelaku pasar akan menantikan sinyal lanjutan dari BI terkait arah kebijakan ke depan, terutama di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. (ant/nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:42
02:13
02:29
22:32
02:38
01:37

Viral