- Pixabay
Harga Minyak Dunia Melonjak, Ekonom Desak Pemerintah Perkuat Insentif Kendaraan Listrik
Jakarta, tvOnenews.com - Lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik kembali memicu kekhawatiran terhadap ketahanan energi nasional. Dalam situasi ini, Kepala Ekonom Bank Permata, Joshua Pasaribu, menilai pemerintah perlu segera memperkuat insentif kendaraan listrik guna menekan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM).
Menurut Joshua, langkah ini menjadi semakin mendesak di tengah ketidakpastian pasokan energi global, terutama akibat konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada distribusi minyak dunia.
Ketergantungan BBM Jadi Sorotan di Tengah Krisis Energi
Joshua menegaskan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada BBM, sehingga gejolak harga minyak global berpotensi memberi tekanan besar terhadap ekonomi nasional.
“Dalam kondisi seperti ini, mengurangi ketergantungan pada BBM menjadi semakin mendesak. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperkuat insentif pembelian kendaraan listrik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, gangguan geopolitik di Timur Tengah membuat jalur distribusi energi global kembali terganggu, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur vital pengiriman minyak dunia.
Selat Hormuz Jadi Kunci, Pasokan Minyak Global Terganggu
Selat Hormuz memainkan peran penting dalam rantai pasok energi global. Pada 2024, aliran minyak melalui jalur tersebut mencapai sekitar 20 juta barel per hari atau setara 20% dari total konsumsi minyak dunia.
Namun, pada Maret 2026, kondisi berubah drastis. Gangguan geopolitik menyebabkan pasokan minyak global turun hingga sekitar 8 juta barel per hari.
Situasi ini turut mendorong harga minyak mentah dunia, di mana minyak Brent tercatat masih berada di kisaran 108 dolar AS per barel per 27 Maret 2026.
Kenaikan harga tersebut berpotensi meningkatkan beban subsidi energi serta memicu tekanan inflasi di dalam negeri.
Insentif Kendaraan Listrik Dinilai Efektif
Joshua menilai kebijakan insentif kendaraan listrik yang telah diterapkan pemerintah sebelumnya terbukti efektif dalam mendorong pertumbuhan pasar.
Salah satu contohnya adalah kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah pada 2025 untuk mobil listrik roda empat tertentu dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) minimal 40%.
Kebijakan tersebut berlaku hingga Desember 2025 dan dinilai berhasil mempercepat pembentukan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
“Insentif tersebut efektif dalam mendorong pembentukan pasar kendaraan listrik sekaligus mempercepat pengembangan industri,” jelasnya.
Penjualan Mobil Listrik Tumbuh di Tengah Pasar Lesu
Menariknya, pertumbuhan kendaraan listrik justru terjadi di tengah perlambatan pasar otomotif nasional.
Pada 2025, pasar otomotif Indonesia mengalami kontraksi sekitar 10%. Namun, penjualan kendaraan listrik justru menunjukkan tren peningkatan signifikan.
Berdasarkan data wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer), penjualan mobil listrik mencapai:
-
82.525 unit (Januari–November 2025)
-
Total pasar kendaraan nasional: 710.084 unit
-
Pangsa pasar kendaraan listrik: 11,62%
Data tersebut menunjukkan bahwa insentif pemerintah memiliki peran besar dalam mendorong minat masyarakat terhadap kendaraan listrik.
Risiko Melambat Tanpa Insentif Baru
Meski menunjukkan tren positif, Joshua mengingatkan bahwa pertumbuhan kendaraan listrik berpotensi melambat jika tidak ada kebijakan lanjutan dari pemerintah.
Menurutnya, harga kendaraan listrik yang relatif tinggi masih menjadi kendala utama bagi konsumen, sehingga insentif tetap diperlukan, terutama pada tahap awal pengembangan pasar.
“Tanpa stimulus baru, pasar kendaraan listrik memang berisiko melambat,” ujarnya.
Usulan Insentif Lebih Tepat Sasaran
Joshua menegaskan bahwa solusi terbaik bukan kembali ke subsidi besar-besaran, melainkan merancang insentif yang lebih tepat sasaran.
Beberapa skema insentif yang dinilai efektif antara lain:
-
Insentif untuk kendaraan dengan TKDN tinggi
-
Dukungan bagi pembeli pertama kendaraan listrik
-
Stimulus untuk armada dengan penggunaan intensif (seperti transportasi umum atau logistik)
Pendekatan ini dinilai lebih efisien dalam mendorong pertumbuhan industri sekaligus menjaga beban fiskal tetap terkendali.
Momentum Percepat Transisi Energi
Kenaikan harga minyak dunia dinilai menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi.
Dengan memperkuat insentif kendaraan listrik, pemerintah tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap BBM, tetapi juga mendorong kemandirian energi nasional dalam jangka panjang.
Selain itu, pengembangan kendaraan listrik juga berpotensi menciptakan ekosistem industri baru, mulai dari manufaktur hingga infrastruktur pengisian daya. (nsp)