- Antara
Rupiah Menguat ke Rp16.986 per Dolar AS, Sentimen Deeskalasi Konflik AS-Iran Dorong Optimisme Pasar
Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan pada awal perdagangan Rabu (1/4/2026), seiring membaiknya sentimen global terkait potensi meredanya konflik geopolitik.
Berdasarkan data pasar, rupiah menguat 55 poin atau 0,32 persen ke level Rp16.986 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.041 per dolar AS.
Sentimen Global Jadi Pendorong Utama
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai penguatan rupiah dipicu oleh optimisme pasar terhadap deeskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Menurutnya, pelaku pasar merespons positif penurunan indeks dolar AS yang dipengaruhi oleh ekspektasi meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah.
“Rupiah hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.940 hingga Rp17.040 per dolar AS,” ujarnya.
Sinyal dari Donald Trump Redakan Ketegangan
Optimisme pasar juga dipicu pernyataan Presiden Donald Trump yang disebut siap mengakhiri operasi militer terhadap Iran.
Mengutip laporan The Wall Street Journal, Trump disebut mempertimbangkan untuk tidak memperluas konflik, termasuk terkait upaya membuka Selat Hormuz secara penuh.
Langkah tersebut dinilai sebagai strategi untuk menghindari konflik berkepanjangan sekaligus tetap menekan kemampuan militer Iran.
Selain itu, Washington disebut ingin menjaga kelancaran arus perdagangan global, yang sempat terganggu akibat ketegangan di kawasan tersebut.
Faktor Domestik Turut Mendukung
Dari dalam negeri, sentimen positif juga datang dari kebijakan pemerintah yang dinilai mendukung stabilitas ekonomi.
Pelaku pasar menyambut baik langkah efisiensi yang tengah disiapkan pemerintah, meskipun masih dibayangi kewaspadaan terhadap harga minyak global.
Harga minyak dunia yang masih berada di kisaran 100 dolar AS per barel menjadi salah satu faktor yang terus dicermati investor.
Inflasi Diperkirakan Melandai
Dari sisi data ekonomi, inflasi Indonesia pada Maret 2026 diperkirakan melandai menjadi sekitar 3,65 persen.
Penurunan ini didorong oleh sejumlah faktor, seperti insentif tarif listrik dan stabilnya harga pangan pasca Lebaran.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi stabilitas daya beli masyarakat dan memperkuat kepercayaan pasar.
Neraca Perdagangan Tetap Surplus
Selain inflasi, kinerja neraca perdagangan Indonesia juga diproyeksikan tetap positif.
Surplus diperkirakan mencapai 1,5 miliar dolar AS, meningkat dibanding bulan sebelumnya.