- Istimewa
Harga Minyak Ambruk hingga 18 Persen Usai Gencatan Senjata AS-Iran, Pasar Global Berubah Arah
Jakarta, tvOnenews.com - Harga minyak dunia mengalami tekanan besar dan anjlok tajam pada perdagangan Rabu (8/4), menyusul meredanya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat menyetujui proposal gencatan senjata sementara dari Iran. Pergerakan harga minyak ini langsung mengubah arah pasar global yang sebelumnya dibayangi risiko konflik energi.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 20.00 WIB, harga minyak jenis WTI tercatat turun drastis hingga 18,09 persen ke level US$ 92,52 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent juga merosot 16,45 persen ke posisi US$ 91,29 per barel. Penurunan harga minyak ini menjadi salah satu koreksi terdalam dalam beberapa waktu terakhir.
Harga Minyak Terjun Bebas, Premi Risiko Menguap
Penurunan harga minyak yang tajam ini mencerminkan hilangnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong harga minyak naik signifikan. Pasar sebelumnya telah mengantisipasi kemungkinan terburuk, termasuk ancaman terhadap infrastruktur energi Iran.
Namun, ketika gencatan senjata diumumkan, sentimen pasar langsung berubah. Harga minyak yang sempat memanas kini berbalik arah dan turun tajam untuk mencari titik keseimbangan baru.
Founder Traderindo, Wahyu Laksono, menjelaskan bahwa koreksi harga minyak ini merupakan respons alami pasar terhadap meredanya ketegangan.
“Pasar sebelumnya sudah pricing in risiko konflik. Begitu ada gencatan senjata, harga minyak langsung terkoreksi tajam,” ujarnya.
Selat Hormuz Dibuka, Harga Minyak Ikut Terkoreksi
Salah satu faktor utama yang menekan harga minyak adalah terbukanya kembali jalur distribusi energi strategis di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu titik krusial dalam perdagangan minyak global.
Dengan adanya gencatan senjata selama dua pekan, kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global mulai mereda. Hal ini langsung berdampak pada harga minyak yang mengalami penurunan signifikan.
Namun demikian, pelaku pasar masih menyimpan kekhawatiran. Status ketidakpercayaan (distrust) antara pihak-pihak yang berkonflik dinilai masih tinggi.
“Ini baru gencatan senjata taktis, bukan perdamaian permanen. Risiko tetap ada,” tambah Wahyu.
Harga Minyak Masih Rentan, Pasar Tunggu Kepastian
Meski harga minyak turun tajam, para analis menilai kondisi ini belum sepenuhnya stabil. Pelemahan harga minyak saat ini lebih bersifat koreksi jangka pendek akibat meredanya sentimen bullish.